Pages

Minggu, 29 Mei 2011

BAGAIMANA HENDAKNYA KITA BERSAUDARA??

Al-Ukhuwah Al-Islamiyah


Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah. Islam menjadikan persaudaraan dalam islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya. Perpecahan di kalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S.49:10 dan 8 :1. Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah islamiyah antara lain :

1. Melaksanakan proses ta’aruf (saling mengenal). Literaturnya : 49:13

Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran(Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan thd suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi/diikuti,dll. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses ukuhuwah islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.

2. Melaksanakan proses tafahum (saling memahami)
Saling memahami adalah kunci ukhuwah islamiyah. Tanpa tafahum maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses ta’aruf/pengenalan dapat deprogram namun proses tafahum dapat dilakukan secara alami bersamaan dgn berjalannya ukhuwah. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengatahui kekuatan dan kelemahannya dan menerima perbedaan. Dari sini akan lahirlah ta’awun (saling tolong menolong) dalam


persaudaraan. Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha memahami org lain. Saling memahami keadaan dilakukan dgn cara penyatuan hati,
pikiran dan amal. Allah-lah yang menyatukan hati manusia.

3. Melakukan At-Ta’aawun (saling tolong menolong). Q.S. 5::2

Bila saling memahami sudah lahir maka timbullah rasa ta’awun. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan amal (saling membantu). Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk social yang butuh berinteraksi dan butuh bantuan orang lain. Kebersamaan akan bernilai bila kita mengadakan saling membantu.
.

4. Melaksanakan proses takaful (saling menanggung/senasib sepenanggungan)

yang muncul setelah proses ta’awun berjalan. Rasa sedih dansenang diselesaikan bersama. Takaful adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan para sahabat yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat kehausan dan memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga, namun setelah diberi, air itu diberikan lagi ek sahabat yang lain, terus begitu hingga semua mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan dirinya (itsar). Inlah cirri utama dari ukhuwah islamiyah. Hadits : Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri (HR. Bukhari-Muslim).
Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah SWT. Bila umat islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Kesatuan barisan dan umat berarti bersatu fikrah/pemikiran dan tujuan tanpa menghilangkan perbedaan dalam karakter (kejiwaan). Inilah kekuatan Islam. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin persaudaraan islam ini.

Sabtu, 28 Mei 2011

SIAPAKAH ITU IKHWAN ?

Siapa itu ikhwan? setidaknya da tiga tentang ikhwan ini yakni ikhwan fid diin, ikhwan Nabi, serta ikhwan/akhwati fillah. berikut cuplikan penjelasan dari As Syeikh Abd Muhaimin:

A. IKHWAN FIDDIN

Ikhwan fiddin adalah gelar yang diberikan langsung oleh Allah Azza wa Jalla, bagi yang telah bertaubat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat.

Bagi orang orang yang belum bertobat (dari kesyirikan, kekafiran dll), belum dapat disebut Ikhwan Fiddin. Juga bagi orang yang tidak sholat atau hanya sekedar mengerjakan sholat tanpa memahami ma’na dari sholat tersebut, sehingga sholat yang dikerjakan hanya sebatas ritual tanpa mempengaruhi pola hidup, sehingga tidak nampak bekas-bekas sholat mereka ( min atsaris sujud ), sebagaimana para sahabat Rosul adanya. Sebagaimana yang digambarkan dalam surat Al-Fath ayat 29,namun sebaliknya sholat mereka hanya siulan dan tepuk tangan belaka, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Anfal ayat 35. Sholatnya tanpa dapat mencegah dari perbuatan Fahsya dan munkar (QS. Al Ankabut : 45) serta dapat lebih mengingat Allah (QS. Toha : 14 ), tidak mengabaikan dan tidak melalaikan apa-apa yang telah diikrarkan dihadapan Allah ketika sedang sholat, berjanji untuk tunduk patuh, rela diatur akan meng-Ilahkan Allah semata dan tidak mensekutukan Nya dengan sesuatu apapun.
Juga tidak disebut Ikhwan fiddin bagi yang belum menunaikan zakat, atau menunaikan zakat tetapi disalurkan fi sabilit Thoghut yang akan digunakan mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah ( QS. Al Anfal : 36 )

Dan Allah menerangkan gelar Ikhwan fiddin adalah bagi kaum yang mengetahui bukan diberikan kepada sembarangan orang yang tidak mengetahui hakikat ini.

"Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat serta membayar zakat maka mereka itu adalah Ikhwan-Ikhwan fiddin. Dan kami menjelaskan ayat-ayat ini bagi kaum yang mengetahui". ( QS. At Taubah : 11)


B. IKHWAN NABI

"Bilakah aku bertemu Ikhwan-ikhwan ku ? " Para sahabat berkata : " Bukankah kami Ikhwan- Ikhwan mu ? " Nabi Saw menjawab : "Kalian adalah sahabat-sahabat ku, sedangkan ikhwan- ikhwanku adalah orang-orang yang beriman kepadaku tetapi tidak pernah melihatku dan aku rindu kepada mereka". (HR Abu Syaikh)

"Aku rindu bertemu ikhwan-ikhwanku, yaitu orang-orang yang beriman kepadaku namun tidak pernah melihatku". (HR Ahmad)

Betapa indahnya gelar Ikhwan dan betapa semua orang mendambakannya, siapa yang tidak dirindukan oleh sang kekasih Allah.

Merekalah Ummat beliau yang istiqomah, yang tidak pernah menyimpang dari sunnah nya, menapaki manhajnya dan mereka beriman kepadanya dengan keimanan yang Amiq walaupun tak pernah melihatnya, apalagi melihatnya, mereka menghidupkan sunnahnya dikala manusia mengabaikannya, mereka menapaki manhajnya ketika manusia meninggalkannya, pantaslah kalau Rasulullah merindukannya. Itulah Ikhwan Nabi Saw yang didunia tidak bertemu Nabi, lain halnya dengan para sahabat mereka menyaksikan langsung pribadinya, kemu’jizatannya, kemuliaan akhlaqnya, keberaniannya dalam membela Al Haq, kelembutannya terhadap sesama, kegagahan nya dalam mengobarkan jihad bagi ummatnya, kearifan nya dalam menyelesaikan setiap permasalahan ummatnya, wajarlah kalau mereka beriman kepada beliau, lain hal dengan Ikhwan yang tidak pernah sama sekali bertemu dengannya, yang tersisa hanya jejak yang samar dikelabui zaman yang penuh fitnah, namun hanya Ikhwan /Akhwat sajalah yang dengan rahmat Allah dapat menapak tilasi jejak /manhaj yang pernah beliau Saw bersama para sahabatnya praktekkan, sehingga Dinul Islam dapat kembali zhohir ditengah-tengah gelombang kegelapan. Walaupun ibarat memegang bara api, tetapi Ikhwan/Akhwat Nabi tetap iltizam menempuh jalan Nabi yang penuh tantangan, karena mereka ingin bert emu Allah Swt dan Nabi Nya yang menunggu di telaga yang indah.

Dari Abu Hurairah ra. Katanya : "Suatu ketika Rasulullah berkunjung ke sebuah pekuburan, lalu mengucapkan salam : ’Assalamu’alaikum daara qaumin mu’minin. Wa inna insya Allah bikum laahiquun’ ( selamat engkau wahai penduduk kampung kaum mu’min Insya Allah kami akan menyusul kalian). Setelah itu Nabi Saw berkata : " Aku ingin benar kalaulah kita dapat melihat Ikhwan-Ikhwan kita", para sahabat berkata : "bukanlah kami Ikhwan-Ikhwan mu, ya Rasulullah ? ", jawab Nabi: " Anda semua adalah sahabatku, Ikhwan-Ikhwan kita yang kumaksudkan adalah orang-orang yang belum datang ( tetapi akan datang kelak pada hari kiamat)", mereka bertanya: " Bagaimana anda dapat mengenal ummat anda yang belum datang tetapi akan datang di hari kemudian ya Rasulullah ?", jawab Rasulullah Saw: "Bagaimana pendapat anda jika seseorang mempunyai kuda putih keningnya, kakinya dan tangannya, kemudian kuda itu berada di tengah kuda-kuda lainnya tetapi hitam semua, dapatkah orang mengenali kudanya ?", mereka menjawab: "tentu ya Rasulullah, tentu dapat ", Sabda Nabi Saw: " Nah! mereka nanti akan datang dalam keadaan putih bercahaya-cahaya mukanya, tangannya dan kakinya, karena dari bekas wudhu. Dan aku mendahului mereka datang ke telagaku. Ketahuilah ada orang-orang yang aku larang mendekati ke telaga ku itu, seperti halnya seekor unta sesat, lalu kupanggil mereka: "kemarilah !", tetapi nanti ada yang mengatakan: "mereka itu telah bertukar agama sepeninggal anda !", karena itu kuusir mereka, "pergilah jauh-jauh !", kataku. ( HR. Muslim)


C. IKHWAN / AKHWAT FILLAH

Orang-orang yang bersatu dibawah aqidah yang satu (diikat dengan tali Allah) yang di dalamnya penuh keikhlasan karena Allah mereka itulah Ikhwan’Akhwat fillah. Mereka saling mencintai karena Allah, saling menyayangi dengan ghiroh karena Allah, tolong-menolong, lindung-melindungi semata-mata hanya karena Allah, karena kemuliaan Nya, walaupun diantara mereka tidak ada hubungan nasab, karib kerabat, bisnis/harta benda tapi semata- mata cinta karena Allah, benci karena Allah, berkumpul karena Allah, berpisah karena Allah.

"Sungguh diantara hamba-hamba Allah itu , ada orang-orang yang bukan nabi dan syuhada, tetapi nabi dan syuhada menginginkan keadaan seperti mereka, karena kedudukannya di sisi Allah", sahabat bertanya:" Kabarkan kepada kami siapa mereka itu ?", Rasul Saw menjawab:" mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena kemuliaan Allah walaupun tak ada hubungan karib kerabat diantara diantara mereka serta tak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka, maka Demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa di kala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita di kala orang lain berduka cita". (HR Abu Daud)

"Dua orang yang saling mencintai karena Allah keduanya berkumpul karenanya dan berpisah karenanya"(Bukhori Muslim)



dari terjemah kitab Mafahim Ma’ani Kalimati’l Ikhwati, As Syuruth wa Khosoisuhum

Rabu, 25 Mei 2011

Kiat Membangun Kejayaan Umat





Oleh Ahkam Sumadiana


Untuk membangun kembali kejayaan umat dan menjamin keselamatan dunia, dibutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki kemampuan luar biasa, seperti yang dikader para nabi, khususnya Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah teladan abadi dalam mewujudkan peradaban mulia di muka bumi.
Sosok pribadi unggul yang dibutuhkan saat ini setidaknya mempunyai kriteria sebagai berikut:

1. Penuh Keyakinan kepada Allah dan Percaya Diri
Faktanya, umat Islam saat ini masih ragu terhadap bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kekuatannya sendiri, hingga sulit untuk bersaing, apalagi melawan musuh-musuh Islam. Padahal umat Islam adalah umat yang paling unggul dari pada umat lainnya. Sebagaimana Firman Allah SWT,”
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah… (Ali ‘Imran [3]: 110)

Keunggulan yang utama bagi orang-orang beriman terletak pada ajaran Islam yang tetap terjaga kesucian dan keasliannya. Seharusnya, dengan modal terbesar ini tidak ada yang menghalangi kita untuk yakin dan percaya diri.

2. Selalu Waspada dan Siap Siaga
Kondisi kaum Muslimin saat ini yang miskin, lemah, menderita, dan terjajah, mengakibatkan mereka tidak sanggup mengemban tanggung jawab yang telah diwajibkan Allah kepada mereka. Sampai kapan umat Islam menunggu belas kasihan dan uluran tangan dari musuh-musuh Islam? Bukankah sebaiknya kita segera bangkit dari keterpurukan, kemudian menyiapkan diri untuk menyongsong hari esok dan melawan musuh-musuh Islam? Bukankah Allah perintahkan melalui firman-Nya.

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu. (Al-Anfal [8]: 60)
Adapun persiapan yang diperlukan sedikitnya ada dua, yakni:
a. Al-i’dad al-imani (mempersiapkan kekuatan Iman)
Allah telah memberikan jaminan kemenangan bagi orang beriman sebagaimana firman-Nya,”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhai-Nya untuk merek, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa … (An-Nur [24]: 55)
b. Al-i’dad al-maddi (mempersiapkan perbekalan materiil)
Persiapan ini meliputi dua hal, yakni al-’udah al-’asykariyah (senjata) dan al-’udah al-basyariyah (perlengkapan pasukan). Persiapan senjata dan sejenisnya merupakan syarat penting untuk melawan musuh-musuh Allah.

Demikianlah, jika persyaratan tersebut terkumpul, maka kewajiban berperang harus segera dijalankan, karena kewajiban tiba bersama dengan adanya kemampuan. Rasulullah dan para Sahabat, ketika belum hijrah di Makkah tidak diperintahkan untuk berperang karena mereka belum siap.
3. Menjadi Da’i Unggul yang Diplomatif
Tidak dapat disangkal bahwa ajaran Islam dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia saat ini karena dakwah dan kerja keras para da’i yang diplomatis. Kehandalan generasi awal Islam itu merupakan janji Allah SWT sebagaimana firman-Nya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ﴿٣٣﴾
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At-Taubah [9]: 33)
Kita bersyukur dengan janji Allah bahwa Islam dengan kearifan dan kebijaksanaannya akan mampu mengalahkan agama dan ideologi lain. Banyak hadits yang menjelaskan masa kemenangan Islam dan tersebarnya agama Allah ini ke berbagai penjuru dunia. Tidak diragukan lagi bahwa kemenangan Islam di masa depan semata-mata atas izin Allah Ta’ala, melalui perjuangan kita.

Di antara hadits yang dapat membakar semangat para pejuang Islam sekaligus menjadi argumen untuk menyadarkan kaum fatalis yang tidak mau berjuang sama sekali adalah:
Allah SWT telah menghimpun (mengumpulkan dan menyatukan) bumi ini untukku. Oleh karena itu, aku dapat menyaksikan belahan bumi Barat dan Timur. Sungguh kekuasaan umatku akan sampai ke daerah yang dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku itu. (Riwayat Imam Muslim [8/171], Imam Abu Daud [4252], Imam Turmudzi [2/27] yang menilainya sebagai hadits shahih)

Dalam mewujudkan generasi yang unggul itu kita akan menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk menghadapinya:

A. Menghilangkan keragu-raguan terhadap Islam sebagai satu-satunya solusi terhadap problematika kehidupan manusia. Firman Allah SWT:
أَفَغَيْرَ دِينِ اللّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعاً وَكَرْهاً وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ ﴿٨٣﴾
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (‘Ali Imran [3]:83)
B. Mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusan dengan berpegang teguh terhadap al-Quran dan al-Hadits. Firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Hujurat[49]:1)
C. Mengutamakan hidup berjamaah serta meninggalkan perpecahan dan pertengkaran. Firman Allah:
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (Ali ‘Imran [3]:103)

D. Menjaga dan merpererat ukhuwah Islamiyah, baik lokal, nasional maupun internasional. Firman Allah:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿١٠﴾
Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat [49]:10)
E. Mengikis sikap minder pada diri orang beriman, karena yang paling mulia adalah orang takwa. Firman Allah:
…إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾
…sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat [49]:13)
F. Meninggalkan sikap sombong. Tabiat orang sombong biasanya tidak membutuhkan bantuan Allah dan bantuan orang lain, bahkan meremehkannya. Firman Allah:
كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى ﴿٦﴾ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى ﴿٧﴾

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup (tak perlu bantuan).( Al-Alaq [96]: 6-7)
Wallahu a’lam bish-Shawab. *** SUARA HIDAYATULLAH, JULI 2010

Kiat Agar Selalu Bersyukur




Salah satu kenikmatan yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya adalah rasa syukur. Nikmat inilah yang akan menggolongkan seseorang apakah termasuk manusia kufur atau sebaliknya, pandai bersyukur.

Untuk menjadi hamba yang senantiasa bersyukur kita harus memahami prinsip-prinsip berikut ini.

1. Memahami Makna dan Hakekat Syukur

Ar-Raghib al-Asfahani dalam bukunya al-Mufradat fii Gharib al-Quran menyatakan syukur sebagai gambaran kenikmatan yang diterima seseorang yang tercermin dalam penampilannya.

Dasar dari kata ‘syukur’ adalah ‘membuka’. Kebalikan dari kata ‘kufur’ yang berarti ‘menutup’. Dalam kamus bahasa Indonesia, ‘syukur’ berarti rasa terima kasih.

Hakekat syukur adalah menampakkan nikmat Allah Ta’ala dengan menyebut-nyebut Sang Pemberi nikmat secara lisan. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan nikmat-Nya.
Dengan demikian, syukur adalah bagaimana menampakkan nikmat sesuai dengan fungsi dan kegunaannya melalui petunjuk al-Qur`an dan al-Hadits.

Allah Ta’ala berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (adh-Dhuha [93]: 11)

2. Menerima Syukur Sebagai Kewajiban

Allah Ta’ala berfirman, ”Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku,” (al-Baqarah:152).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Allah Ta’ala tanpa melupakan-Nya, patuh kepada-Nya tanpa mendurhakai-Nya.

Hal ini menunjukkan bahwa makna bersyukur sebenarnya menghadirkan Allah Ta’ala di segenap nikmat-nikmat-Nya. Dengan mensyukuri nikmat-Nya maka secara otomatis kita telah mengakui eksistensi Allah Ta’ala dalam kehidupan ini.

3. Meninggalkan Kufur Nikmat

Qarun adalah simbol manusia yang mengingkari nikmat dan anugerah Allah Ta’ala. Bahkan, dia berani menegaskan kalau semua yang diperolehnya semata-mata karena kemampuannya. Dengan kata lain, ia telah kufur nikmat.

Firman Allah Ta’ala, ”Qarun berkata, ’Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka,” (al-Qashshas [28]:78).

Adapun untuk mewujudkan syukur yang sempurna, kita harus memenuhi ruang lingkup berikut ini.

1. Berawal dari Pribadi

Allah Ta’ala berfirman, ”Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia mensyukuri dirinya sendiri dan barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Tuhan-Ku Maha Kaya lagi Mulia,” (an-Naml [27]: 40).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) juga bersabda, ”Allah senang melihat (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya,” (Riwayat Tarmizi).

Implementasi syukur ada pada perbuatan dan tindakan nyata sehari-hari. Makna inilah yang dipahami Rasulullah SAW ketika ‘Aisyah, isteri beliau, mendapati beliau senantiasa melaksanakan shalat malam tanpa henti. Bahkan, seakan-akan memaksakan diri hingga kakinya bengkak-bengkak.

Saat ditanya oleh ‘Aisyah apa latar belakang kesungguhan beribadah tersebut, Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah (pantas jika) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” (Riwayat Bukhari).
Dalam hal ini, Ibnul Qayyim menyebutkan tiga dimensi yang harus ada dalam bersyukur.

Pertama, bersyukur dengan lisan

Wujudnya adalah pengakuan terhadap nikmat Allah Ta’ala sambil memuji-Nya dengan ungkapan ‘alhamdulillah’. Ungkapan ini disampaikan secara lisan kepada Yang Dipuji, secara ikhlas dengan pengakuan yang mendalam, dan dengan penuh kekaguman.

Menurut ahli bahasa, kata ‘alhamdulillah’ disebut sebagai al-istighraq, yang mengandung arti ‘keseluruhan’.
Yang paling berhak menerima segala pujian hanya Allah Ta’ala, bahkan segala pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya saja.

Jika mata dan hati kita secara sadar menyaksikan dan merasakan nikmat yang tak ternilai harganya, maka akan terurailah kata-kata itu sebagaimana firman Allah Ta’ala, ”Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya,” (Ibrahim [14]: 34).

Kedua, bersyukur dengan hati

Dimensi syukur ini dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Ta’ala. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.
Syukur ini memberikan kesadaran betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah Ta’ala sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya.

Bahkan, syukur yang berangkat dari hati dan pikiran seperti ini akan terekspresi dalam bentuk sujud, yakni sujud syukur.

Ketiga, bersyukur dengan perbuatan

Seluruh anggota badan manusia diciptakan Allah Ta’ala sebagai nikmat. Implementasi dari rasa syukur ini adalah dengan menggunakan semua anggota tubuh tersebut untuk hal-hal yang positif saja.
Shalat seseorang merupakan bukti syukurnya. Puasa dan zakat seseorang juga bukti syukurnya. Apapun kebaikan yang dilakukan seseorang karena Allah Ta’ala adalah implementasi syukur.

Hal ini disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi bahwa syukur pada intinya adalah bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan beribadah dan beramal shaleh.

2. Lingkup Keluarga

Teladan Nabi Daud Alaihissalam dalam bersyukur tergambar dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Daud; ia tidur setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. Puasa yang paling dicintai Allah juga adalah Puasa Daud; ia puasa sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya.”
Dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari Tsabit Al-Bunani dijelaskan bagaimana Nabi Daud membagi waktu shalat istri, anak, dan seluruh keluarganya, sehingga tidak ada sedikit waktu pun, baik siang maupun malam, kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat (sesuai syariat Nabi Daud).

Dalam hal mencari rezeki, keteladanan Nabi Daud juga diabadikan dalam beberapa Hadits yang menyebut tentang keutamaan bekerja. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya Nabi Daud senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”

Nabi Daud bekerja tentunya bukan atas dasar tuntutan kebutuhan hidup karena ia seorang raja yang sudah tercukupi kebutuhannya. Namun, ia memilih sesuatu yang utama sebagai wujud rasa syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah Ta’ala.

3. Lingkup Negara

Wujud syukur dalam lingkup ini adalah dengan menegakkan syariat Islam. Allah Ta’ala berfirman, ”Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui,” (al-Jaatsiyah [45]: 18).
Penerapan syariat Islam merupakan rasa syukur atas nikmat iman dan Islam, terlebih di negeri-negeri Muslim yang tengah dilanda berbagai macam krisis kehidupan.

Kewajiban menegakkan syariat Islam menjadi konsekuensi sekaligus solusi atas berbagai persoalan umat. Syariat Islam dibebankan kepada setiap mukallaf, pemimpin, dan orang yang memiliki tanggungjawab, baik lembaga negara atau lainnya.

Semua diperintahkan untuk menegakkan keadilan, amar ma’ruf nahi munkar, dan menghukum sesuai dengan hukum Allah Ta’ala. Rasulullah SAW dan para Sahabat telah melaksanakan tugas tersebut. Nabi Muhammad SAW, telah menegakkan syariat di seluruh aspek kehidupan, sejak berdirinya negara Madinah Al-Munawarah, hingga setelah beliau wafat.

Kita sudah memahami bahwa kekuatan hukum yang dibuat oleh lembaga yang lebih tinggi tidak boleh ditentang oleh lembaga yang lebih rendah. Syariat Islam merupakan hukum yang tertinggi. Karenanya, tidak boleh ada aturan yang dibuat manusia yang bertentangan dengan aturan Allah Ta’ala. SUARA HIDAYATULLAH, NOPEMBER 2010
Wallahu a’lam bish shawab. ***

Di Dalam Ombak Ada Kebenaran Al-Qur’an





Dalam al-Qur’an surat An-Nuur [24] : 40 Allah berfirman:

“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”

Ayat ini di antaranya menjelaskan adanya dua ombak di lautan. Pembahasan mengenai ombak atau gelombang dalam oseanografi, secara umum dapat dibagi menjadi dua bagian: gelombang permukaan dan gelombang internal. Gelombang permukaan adalah fenomena yang bisa kita temui ketika mengamati permukaan air laut, dan biasa disebut sebagai ombak.

Penyebab terjadinya ombak permukaan adalah hembusan angin dan pasang surut air laut yang terjadi akibat adanya gaya tarik bulan dan matahari.

Ombak dalam tidak bisa dilihat secara kasat mata. Namun, keberadaannya telah diakui oleh para ilmuwan yang menemukan pada 1955 M. Keberadaan ombak ini berada pada kedalaman 1000 M, yang disebut ombak dalam (internal waves).

Ombak dalam terjadi pada permukaan lapisan air di kedalaman lautan, sebab ia memiliki kepekatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan air di atasnya.

Ombak dalam terbentuk akibat adanya perbedaan rapat massa atau densitas air laut dengan gaya pembangkit yang dapat berasal dari angin, pasang surut atau bahkan gerakan kapal laut.

Densitas air laut dipengaruhi oleh tiga parameter yaitu salinitas, temperatur, dan tekanan. Perbedaan densitas akan mengakibatkan air laut menjadi berlapis-lapis, dimana air dengan densitas yang lebih besar akan berada di bawah air dengan densitas yang lebih kecil. Kondisi ini akan menyebabkan adanya lapisan antar muka (interface) dimana jika terjadi gangguan dari luar (oleh gaya pembangkit yang ada) akan timbul gelombang antar lapisan yang tidak mempengaruhi gelombang di permukaan.

Ombak dalam berperilaku mirip ombak permukaan. Ia juga bisa pecah seperti ombak di permukaan laut. Bahkan ia lebih besar daripada ombak yang ada di permukaan, dengan ratusan kali lipat dalam panjang dan tinggi gelombangnya.

Gelombang internal tidak akan bisa kita lihat, karena ia terjadi di lapisan dalam. Ia hanya dapat dideteksi dengan cara melakukan pengamatan atau pengukuran langsung piknoklin atau termoklin dengan menggunakan sensor-sensor pengukuran temperatur dan salinitas air laut, kecepatan arus laut, atau peralatan akustik seperti sonar. Atau bisa dideteksi melalui peralatan canggih dengan mempelajari perubahan suhu dan kandungan garam pada suatu lokasi tertentu.
Piknoklin adalah lapisan yang densitas air lautnya berubah secara cepat terhadap kedalaman, sedangkan termoklin ialah lapisan yang temperatur air lautnya berubah secara cepat terhadap kedalaman.
Secara visual, gelombang dalam baru bisa dilihat jika kita melakukan percobaan di laboratorium atau mengamatinya dari udara atau ruang angkasa dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh.

Fenoman alam yang hanya bisa dideteksi dengan peralatan canggih ini, ternyata sudah tertulis secara jelas dan eksplisit dalam al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa Kitab Suci itu benar-benar berasal dari pencipta alam ini yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.* Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2011

Inovatif Harus Disertai Semangat Ihsan




Setiap zaman memiliki persoalan dan tantangan sendiri-sendiri. Ada kalanya persoalan menjadi hambatan yang menyulitkan, namun bisa juga menjadi jembatan menuju jalan kemudahan. Semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Mereka yang merasa menjadi korban dari berbagai masalah akan cenderung mengeluh dan menyalahkan pihak lain, sehingga langkahnya terhenti dan terjerembab ke dalam lubang yang gelap.

Tapi, orang yang bermental unggul akan berupaya mencari jalan keluar. Ia tidak putus asa dari berbagai kesulitan. Malah, kesulitan itu kian menantangnya untuk mengerahkan segala potensi diri. Ia tahu, di batas ketidakmampuan manusia, selalu ada kemudahan. Inilah sikap para inovator sejati. Muslim yang inovatif adalah Muslim yang mampu mengubah hambatan menjadi tantangan untuk beramal shalih.

Fitrah Inovatif
Dalam kehidupan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan karunia yang sangat banyak kepada manusia. Dia menciptakan bumi dan langit serta segala isinya untuk manusia. Dia Maha Mengatur dan Maha Memelihara bumi. Dia mempergilirkan siang dan malam agar manusia dan mahluk lainnya bisa hidup dengan nyaman.

Memang, ada berbagai masalah dalam kehidupan manusia. Tapi, Dia juga memberikan instrumen dan kemampuan kepada manusia untuk bisa menyelesaikannya.

Potensi yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia sangat besar, lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Bahkan, lebih besar dari potensi yang diberikan kepada malaikat sekali pun.

Allah Ta’ala telah memberikan kemampuan dan potensi lebih pada manusia sejak zaman Nabi Adam Alaihissalam, yakni potensi akal. Dengan akal inilah manusia bekreasi dalam kehidupan ini.

Malaikat memang salah satu makhluk Allah Ta’ala yang mulia karena ketaatannya. Tetapi, malaikat tidak diberi kemampuan berkreasi dalam kehidupan yang kompleks ini. Karena kemampuan kreasi itulah manusia diberikan peran dan tugas oleh Allah Ta’ala sebagai khalifah di muka bumi.

Sebagai hamba Allah Ta’ala yang pandai bersyukur, kita tentu tidak akan menyia-nyiakan potensi ini. Kita akan berusaha mendayagunakannya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, lebih makmur dan sejahtera. Tanpa upaya pengembangan, kehidupan di bumi ini tentu akan berhenti.

Mungkin barang-barang tambang akan tetap sebagai potensi di perut bumi, tak pernah dapat dimanfaatkan. Begitu pula tak ada peternakan, pertanian, atau industri. Hidup ini akan tetap seperti Zaman Batu karena tidak ada perkembangan peradaban.

Padahal, persoalan manusia terus berkembang. Karena itu, tanpa mendayagunakan kreatifitas pemberian Ilahi, manusia tak akan mampu menghadapi persoalan kehidupan ini.

Contoh sederhana, persoalan penyediaan pangan. Saat ini jumlah penduduk bumi sudah sangat banyak. Tidak sebanding dengan penambahan jumlah pangan. Menurut Robert Malthus, kenaikan jumlah pangan seperti deret hitung, sedang penambahan populasi manusia seperti deret ukur.

Bila teori ini benar-benar terjadi, dunia kini akan kacau balau. Kelaparan akan terjadi di mana-mana. Bahkan, akibat perut lapar, keributan akan mudah tersulut. Singkatnya, bumi akan mengalami guncangan dahsyat.
Namun kekhawatiran itu ternyata tak terjadi. Faktanya saat ini, kita masih bisa mendapatkan pangan dengan mudah. Semua ini karena anugerah yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia melalui kemampuan berinovasi. Kemampuan ini telah melahirkan berbagai temuan teknologi di segala bidang, termasuk pertanian.

Semangat Ihsan
Upaya agar menjadi lebih baik memang sudah menjadi dorongan universal dalam diri manusia. Di Barat, upaya ini dikenal dengan semangat inovasi. Melalui semangat ini ditemukanlah berbagai lompatan penemuan besar dalam berbagai bidang.
Di Jepang dikenal dengan semangat kaizen. Dengan semangat ini, industri Jepang selalu melakukan pengembangan. Meski skala kecil, namun karena terus-menerus, akhirnya Jepang banyak melahirkan produkproduk yang handal.

Sesungguhnya sikap untuk selalu menjadi lebih baik ini juga menjadi nilai yang tidak asing dalam Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mengajarkan agar kehidupan kita hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hebatnya, hal ini tidak terbatas hanya dalam kehidupan materi saja, tetapi dalam semua aspek kehidupan, termasuk spiritual.

Intinya setiap Muslim dalam setiap waktu harus menjadi lebih baik. Inilah yang dikenal dengan sikap ihsan. Secara bahasa, Ihsan berarti memperbaiki. Adapun secara istilah, ihsan berarti mengabdi kepada Allah Ta’ala seakan-akan kita melihat-Nya dan seakan-akan Allah Ta’ala melihat pengabdian kita. Ini akan menjadi motivasi terbesar untuk selalu mempersembahkan yang terbaik setiap saat.

Sudah seharusnya peradaban ini ditransformasi menjadi peradaban yang rahmatan lil alamin (rahmat untuk seluruh alam) dengan spirit ihsan. Berbagai kemajuan bukan bertujuan menghancurkan tetapi untuk kebahagiaan yang hakiki.

Nikmat Allah Ta’ala telah demikian besar kita rasakan. Lantas mengapa kita tak bersyukur dengan berbuat lebih baik kepada sesama? Allah Ta’ala berfirman… berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik kepadamu … (Al-Qashash [28]: 77)

Orang yang selalu lebih baik di hadapan Allah Ta’ala disebut oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang beruntung. Adapun orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, menurut beliau, adalah orang yang merugi. Apalagi jika hari ini justru lebih buruk dari hari kemarin, maka ia dikategorikan orang yang celaka.

Buah Ihsan
Sudah sejauh mana kita mampu menjadikan persoalan hidup sebagai motivasi untuk bersikap ihsan? Ataukah kita justru masih sering memandangnya sebagai penghalang semata?

Mari kita berkaca kepada seseorang yang dihadapkan pada problema masyarakat yang hidup miskin di daerah yang subur. Ia bertanya dalam hati, “Mengapa masyarakat di daerah ini hidup miskin padahal alamnya sangat subur?”

Pertanyaan tersebut tidak berlanjut dengan sikap menyalahkan orang lain, apalagi menuduh dan mengumpat ke sana kemari. Ia lebih suka menghabiskan energinya untuk berkarya mengubah nasib masyarakat dari kemiskinan kepada kesuksesan. Solusi sederhana yang ia tempuh adalah mendirikan pesantren agrobisnis.
Bermodal sebidang tanah dan sedikit pengetahuan pertanian, ia ajak beberapa warga menanam buncis dan kentang. Hasilnya ternyata bagus. Keberhasilan ini mengundang minat banyak orang melakukan hal yang sama. Beberapa waktu kemudian masyarakat di sana mulai produktif. Kesejahteraan pun meningkat.

Tidak puas sampai di situ. Laki-laki itu kembali memutar otak guna membuat pupuk yang berkualitas tapi murah untuk masyarakat. Terciptalah karya inovatif yang selama ini tak pernah terpikirkan oleh orang lain.
Kotoran sapi, kambing, dan ayam, yang biasanya perlu didiamkan selama dua sampai empat bulan agar menjadi pupuk, kini tidak perlu selama itu. Proses pembusukan kotoran ternak tadi bisa berlangsung sempurna hanya dalam waktu beberapa hari saja. Bagaimana caranya?

Laki-laki itu menemukan tesis bahwa bakteri penghancur yang ampuh justru berada dalam perut manusia dan ikut keluar bersama air liur. Nah, dari mana menperoleh air liur? Jawabnya sederhana, dari air kumur santrinya ketika berwudhu.

Atas prestasi tersebut laki-laki itu mendapat anugerah Satyalancana Wira Karya dari Presiden yang kala itu dijabat BJ Habibie. Begitulah kisah orang-orang yang selalu berinovasi. Mudah-mudahan mereka mendapat pahala yang besar dari Allah Ta’ala dan pahala pula bagi orang-orang yang mengikutinya. Itulah buah dari ihsan.

Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa membuat satu cara yang baik, kemudian cara tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun,” (Riwayat Ibnu Majah). Wallahu a’lam. ***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2011