Pages

Jumat, 24 Juli 2009

Tiga Fenomena dalam Ramadhan

Oleh: Ustadz Abdurrahman Muhammad

"Mungkin hasil yang dicapai seorang shaaim (yang berpuasa) hanya lapar dan haus semata. Dan bisa jadi hasil yang diperoleh oleh orang yang shalat malam (giyamul-lail) hanyalah berjaga." (Riwayat Ahmad dan Hakim).

Ada tiga fenomena yang menonjol di bulan Ramadhan, yang menggambarkan betapa masih carut marutnya pemahaman umat Islam terhadap ajarannya sendiri.
Pertama, sebagian besar kaum Muslimin baru mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) setelah datangnya bulan Ramadhan. Selama sebelas bulan penuh mereka menjauhi al-Qur'an, menjauhi masjid, menjauhi kebaikan. Sebaliknya, mereka mendekati tempat-tempat kemungkaran, merapat pada kejahatan, dan melalaikan Allah SWT.

Tatkala Ramadhan tiba, mereka lalu seolah-olah baru tersentak kaget. Mereka bersiap menyambut puasa dengan mendatangi masjid beramai-ramai. Mereka seolah tenggalam dalam kekhusyukan dan kesahduan puasa di bulan Ramadhan. Mereka terlihat bersimpuh, merendahkan diri seolah-olah hendak menipu Allah SWT.

Pertanyaannya, bukankah mereka menyadari bahwa Tuhan pencipta bulan Ramadhan.juga pencipta bulan Sya'ban dan Syawwal? Bukankah mereka telah mengetahui bahwa Allah Maha Melihat perbuatan manusia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya? Lalu mengapa mereka baru terlihat sibuk beribadah pada bulan Ramadhan saja?
Wahai saudaraku, Allah senantiasa melihat, mengetahui, dan mencatat semua amalan kita, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Untuk itu, jangan berhenti berbuat baik hanya di bulan Ramadhan saja. Teruskan...!

Kedua, pada malam-malam bulan Ramadhan sebagian kaum Muslimin meramaikannya dengan shalat tarawih berjama'ah. Mereka berdatangan dari segala penjuru hingga masjid-masjid dan mushalla-mushalla penuh sesak bahkan meluber hingga ke jalan-jalan. Pemandangan ini sungguh sangat menggembirakan, tapi pertanyaannya, kemana mereka setelah Ramadhan berakhir?

Padahal shalat tarawih kedudukannya hanyalah sunnah, sedang shalat lima waktu adalah fardhu, yang wajib dilaksanakan secara berjamaah di masjid (bagi kaum pria yang mampu dan tidak ada halangan).
Pemahaman yang salah kaprah seperti yang dipraktikkan selama ini sudah saatnya diperbaiki. Kaum Muslimin sudah saatnya lebih cerdas dari sebelumnya. Mereka harus tahu bahwa amalan yang wajib harus diutamakan daripada amalan sunnah. Menjalankan shalat fardhu berjama'ah lebih penting dan lebih utama daripada shalat tarawih berjamaah.

Ketiga, kebiasaan buruk selama puasa adalah memperpanjang tidur pada siang hari. Ada sebagian yang meneruskan tidurnya setelah shalat Subuh hingga siang hari dan ada pula yang tidur mulai dari Dzuhur hingga Ashar. Dengan tidur sepanjang itu, di mana kenikmatan menjalankan puasa? Di mana kita berlatih menahan lapar, merasakan pahit getirnya nasib Para fuqara dan masakin?
Lebih ironis lagi jika malam-malam hari Ramadhan dihabiskan untuk begadang dengan melakukan perbuatan yang sia-sia, mendengarkan lagu-lagu lewat radio, menonton televisi hingga larut malam, atau melakukan permainan lainnya, sementara siang harinya justru dipakai untuk tidur. Lalu di mana makna iman di bulan Ramadhan?
Tidur siang hari memang tidak dilarang, jika dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi jika dilakukan dalam tempo yang sangat panjang, lalu di mana makna puasa? Jika Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam (SAW) dan para sahabat memanfaatkan bulan Ramadhan untuk berperang, lalu pantaskah jika kita justru menghabiskannya untuk tidur-tiduran?

*Pimpinan Umum Hidayatullah (Sahid edisi september 2008)
www.hidayatullah.or.id

Selasa, 21 Juli 2009

MEMBACA DALAM PERSPEKTIF ALQUR’AN

Oleh : Si Alif Kecil

Membaca… Kita sering sekali mendengar perkataan ini, bahkan pekerjaan membaca bagi seorang mahasiswa udah tiap hari di lakukan bahkan mungkin sebagian mengatakan “udah ampe’ bosen gw baca”. Seberapa penting sebenarnya kegiatan ini bagi peradaban manusia di muka bumi ini. Yang notabenenya manusia adalah hamba-Nya serta khalifahNya di muka bumi. Sampe-sampe perintah pertama kali yang Allah turunkan pada umat ini adalah perintah untuk membaca (Iqra’)
Bahkan, kalau kita telusuri peradaban di dunia ini berawal dari sebuah bacaan (buku). Lihat saja peradaban Yunani dimulai dengan munculnya buku Illiad karya Homer pada abad ke-9 SM dan berakhir dengan dan brakhir dengan lahirnyua Perjanjian baru. Sementara Peradaban Islam yang Gemilang juga dibangun dengan kekuatan yang tumbuh dari Al-Qur’an sebagai bacaan yang sempurna. Dari hal ini tidaklah berlebihan jika penulis mengatakan kalau bacaan adalah pilar dari sebuah peradaban.
Satu pertanyaan, apa membaca ini harus mesti ada tulisan sebagai obyek bacaan? Tidak. Membaca tidaklah harus ada tulisan namun memang harus ada obyek bacaan. Perhatikan perkataan yang terbiasa kita lontarkan seperti “Jangan kaget, kalau saya bisa baca fikiran anda” atau contoh lain “Dari gerak-geriknya kita bisa membaca apa yang akan dilakukan. Dari contoh tersebut sudah sangat jelas bahwa membaca tidak mengharuskan adanya bacaaan.

MEMBACA DALAM TINJAUAN AL-QUR’AN
Membaca… Sebegitu pentingkah kegiatan membaca itu, sehingga Allah dalam wahyuNya yang tersurat dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk Membaca (Iqra’). Namun bagaimanakah iqra’ yang dimaksudkan Allah dalam Al-Qur’an itu. Dalam artikel ini penulis coba mengungkapkan bagaimanakah Membaca itu dalam perpektif Alqur’an.
Sebelum Allah memberikan perintah pada makhluknya (manusia) Allah sudah menyiapkan sarana-prasarana/instrument untuk melaksanakan perintahNya tersebut. Ketika Allah memerintahkan Manusia untuk mengelola atau menjadi khalifatullah fil ardh Allah telah mempersiapkan Alam semesta sebagai obyek yang harus dimakmurkan dan segala potensi yang dimiliki manusia, dimana potensi tersebut tak dimiliki makhluk lain. 

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(At-Tiin : 4)


Begitupula Allah memerintahkan manusia untuk membaca, maka Allah telah memberikan instrument untuk membaca. Sebagaimana telah diungkapkan di atas bahwa membaca tidak harus dengan adanya tulisan sebagai obyek bacaan. Namun membaca adalah suatu kegiatan mengumpulkan informasi melalui instrument yang telah Allah berikan kepada Manusia itu sendiri. Sebagaimana Allah sebutkan dalam surat As-Sajdah ayat 9 bahwa Allah telah memberikan pendengaran, penglihatan dan hati untuk dimanfaatkan manusia secara proporsional dan maksimal dalam kegiatan membaca.
“Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;…”


Bersamaan dengan itu Allah telah menciptakan ayat-ayat tanziliyah dan ayat kauniyahNya sebagai obyek bacaan dan sumber ilmu yang tak akan pernah habis dibahas, dipelajari dan ditulis oleh manusia.
58. Maka Terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
59. Kamukah yang menciptakannya, atau kamikah yang menciptakannya?
60. Kami Telah menentukan kematian di antara kamu dan kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
61. Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.
62. Dan Sesungguhnya kamu Telah mengetahui penciptaan yang pertama, Maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?
63. Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.
64. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya?
65. Kalau kami kehendaki, benar-benar kami jadikan dia hancur dan kering, Maka jadilah kamu heran dan tercengang.(Al-Waqi’ah 58-65)

17. Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,
18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?(Al-Ghasiyah: 17-20)

Dari rangkaian ayat-ayat dalam surat Al Waqi’ah dan Al-Ghasiyah di atas, kita dapatkan kesimpulan bahwa perintah untuk membaca tidak hanya membaca ayat-ayat tanziliyah namun juga diperintahkan untuk membaca ayat-ayat kauniyah dengan mengaktifkan mata, telinga dan hati dalam memperhatikan teori penciptaan, kejadian alam dan ayat-ayat kauniyah lainnya. Dan di dalam Al Qur’an masih banyak ayat-ayat yang senada dengan yang telah disebutkan.
Manusia yang tidak mengaktifkan potensi pendengaran, penglihatan dan hati yang telah Allah berikan padanya maka ia bagaikan binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.
“ Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”(Al-A’raf:179)

MUTU BACAAN = MUTU AMAL
Membaca tidak sekedar memadati otak sehingga hanya menjadi pengetahuan yang bersifat teoritis, namun dengan adanya ilmu yang diperoleh dari proses membca itu menuntut adanya adanya aksi atau aplikasi/pelaksanaan. Karena keluasan ilmu tanpa adanya pengamalan atas ilmu tersebut maka hanya akan menjadi saksi yang memberatkan dari pemiliknya di hadapan Mahkamah Ilahi.
Kualitas bacaan berbanding lurus dengan mutu amal. Kebenaran membaca sangat mempengaruhi kualitas amal. Amal yang tak berdasarkan bacaan (ilmu) adalah salah. Amal yang benar adalah amal yang berdasarkan pada kelengkapan referensi yang utuh. Sehingga amal tersebut berittiba’ pada Rasulullah SAW (mengikuti sesuai yang dicontohkan Rasulullah). Bahkan untuk syarat diterimanya sebuah amalan adalah ikhlas dan benar. Ikhlas karena niat dan tujuan karena Allah semata (Lillah dan Ilallah). Dan benar sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW (billah)
Sebagai penutup penulis mengingatkan bahwa sama’ (pendengaran), Bashar (penglihatan) dan af-idah(hati) akan dimintai pertanggungjawabannya di Hadapan Allah di yaumil akhir nanti.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra:36)


Maraji’ : Panduan Dakwah Menyongsong Fajar Islam