Alkisah di “negeri dongeng” ada kerajaan yang kaya raya, masyarakatnya berkecukupan dan makmur, sumber daya melimpah ruah. Kerajaan ini berada di sebuah pulau yang bisa membuat sesiapa melihat berdecak kagum sebab keindahannya. Pulau ini biasa disebut dengan pulau Gemintang, sehingga kerajaan ini disebut dengan kerajaan Gemintang. Ada sebuah kebiasaan unik yang dilakukan oleh rakyat di kerajaan ini. Rakyat di kerajaan Gemintang ini melakukan pemilihan raja, (kalo zaman sekarang ungkin seperti pemilu gitu) setiap 10 tahun sekali. Uniknya setiap selesai masa jabatan sang mantan raja dan keluarganya harus bersiap untuk dibuang ke pulau
Momongan. Sebuah pulau yang dikenal menakutkan nan mengerikan. Siapa yang datang ke pulau Momongan ini dipastikan tidak akan bertahan hidup, sebab di pulau ini masih berbentuk hutan rimba yang dipenuhi binatang pemangsa nan buas dan ganas. Disebabkan hal ini, sudah terlalu banyak raja mereka yang berakhir tragis, walaupun saat memerintah merasakan banyak kemuliaan dan kekuasaaan namun ketika dibuang ke pulau Momongan tidak ada yang bisa bertahan hidup.
Maka pada pemilihan raja kali ini banyak yang enggan menjadi raja lagi. Akhirnya ada seorang yang mau menjadi raja. Dan raja kali ini agak berbeda dengan raja-raja sebelumnya. Raja kali ini dapat dikatakan raja yang sangat cerdas, sebab dia tau benar bahwa dia akan menghadapi kehidupan yang kedua, yakni di pulau Momongan. Maka pada masa pemerintahannya pada tahun pertama sang raja memerintahkan ribuan prajuritnya untuk membabat sebagian hutan, dan memburu binatang buas yang ada di pulau Momongan. Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya sang raja selain memerintah kerajaan Gemintang juga membangun pulau Momongan menjadi pulau yang tak kalah indah dengan pulau Gemintang. Bahkan ketika masa jabatannya selesai pulau Momongan menjadi lebih indah daripada pulau gemintang. Setelah 10 tahun menjabat menjadi raja, sang raja pun mesti mengikuti adat biasanya yaitu dibuang ke pulau Muomongan. Namun sekarang pulau Momongan sudah berbeda, pulau ini tak seperti sedia kala yang hutan lebat, namun berupa pulau yang mencegangkan dengan sebuah istana yang manawan hati sesiapa memandang. Maka berbeda dengan raja yang lain, raja ini tidak mati dimangsa binatang buas. Namun menikmati hidup bersama keluarganya.
Memang kisah diatas hanyalah fiktif belaka, namun pada dasarnya kita di dunia ini juga seperti raja tadi. Kita punya “the second life”, hidup yang kedua. Kita punya jatah hidup di dunia ini layaknya raja yang memerintah tadi, bedanya jatah hidup ini kita tidak kita ketahui sebab kapanpun bisa jadi jatah hidup ini bisa habis. Oleh karena itu hendaknya persiapan untuk kehidupan yang kedua ini hendaknya kita persiapkan lebih dini. Allah berfirman dalam surah Luqman 34: ……dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Senada dengan hal ini Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasalaam, pernah berwasiat kepada ibnu Umar sebagaimana tertulis dalam Arba’in nawawiyah:
عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ >>رواه البخاري
“Dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu’alayhi wassallam memegang bahuku lalu bersabda: “Jadilah dirimu di dunia ini seperti seorang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika kamu berada di sore hari janganlah menunggu pagi, dan jika kamu dalam keadaan pagi janganlah menunggu sore. Ambillah sehatmu untuk sakitmu dan hidupmu untuk matimu”.(HR Bukhari).
Rasulullah mengibaratkan hidup di dunia ini bagaikan orang asing atau seorang musafir, artinya kita ini hanya berada dalam sebuah perjalanan untuk menuju rumah kita yang sesungguhnya yaitu akhirat. Nah, bagaimana bentuknya rumah diakhirat tergantung bagaimana kita membangunnya di dunia.
Selamat merenung…! :)
GMP
13 tahun yang lalu
















