Pages

Kamis, 17 September 2009

MELURUSKAN MAKNA JIHAD

Oleh-oleh Seminar Ramadhan FKIP UMP
MELURUSKAN MAKNA JIHAD

Pembicara : Ust. Shohibul Anwar M.HI dan Ust. Sudarsono S.Pd

Berikut ini catatan yang dapat saya memorize dari content seminar yang diadakan di Dome AlManar UMP tanggal 16 September 2009, terutama yang dari ust. Anwar
Dalam Seminar ini pada mulanya pemateri memberikan materi selama 30 menit yg mana diawali dengan menjelaskan pengertian jihad menurut 4 madzab, Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali. Menurut keempat madzab ini dapat disimpulkan bahwa makna jihad adalah perang. Demikian pula pendapat ulama tafsir, ibnu katsir dan ath-thobari dalam menafsirkan surat At-Taubah 41 dan Al-furqan 52 menyatakan bahwa jihad mempunyai arti PERANG.
Dalam presentasinya, ust. Anwar juga menyitir pendapat Khaer Haikal dalam disertasinya(Al-Jihad wa al-Qitaal fii al-Siyasat-i al-Syar’iyyat) sebagai berikut: “Pengertian kata jihad secara etimologis sebagai upaya mengerahkan segala kemampuan antara kedua belah pihak untuk saling mempertahankan. Kemampuan yang dikerahkan itu kadangkala berbentuk aktivitas fisik, penggunaan senjata atau tanpa senjata, dengan mengeluarkan uang atau tidak; kadang berbentuk ucapan, kadang mencegah aktivitas tertentu disertai dengan ucapan.”
Menurut Khaer haekal, jihad ini dalam periode makkah ditafsirkan sebagai jihad yang belum di izinkan berperang atau jihad dalam arti etimologi yaitu bersunggh-sungguh. Namun setelah periode madinah maka makna jihad adalah perang sbagaimana ayat-ayat yang turun di Madinah.
DAKWAH SEBELUM JIHAD
Agama Islam memulai dengan menyeru manusia kepada kebaikan dan berbicara dengan mereka dengan cara yang baik. Jika telah ditegakkan hujjah kepada mereka, namun ternyata berpaling, mereka harus diperangi. Jika di sana ada kekuasaan yang menghalangi manusia untuk mendengarkan seruan Islam, maka kekuasaan itu harus dipotong dari pangkalnya agar Islam sampai kepada ummat manusia. Setelah itu berlaku prinsip laa ikraaha fiddin (tidak ada paksaan dalam agama). Jika penguasa kaum muslimin menguasai suatu wilayah, penduduknya tidak dipaksa untuk memeluk Islam, akan tetapi mereka wajib tunduk pada kekuasaannya. Jika mereka masuk Islam, mereka mempunyai hak seperti kaum muslimin lainnya. Tetapi jika mereka tetap dalam agamanya, mereka harus membayar jizyah. Jika tidak mau, maka mereka harus diperangi.
TAHAP-TAHAP JIHAD
• Tahap Pertama : Pada tahap ini yang pada umumnya adalah marhalah Makkiyah, Rasulullah melarang para shahabatnya untuk berjihad. (QS. An-Nisaa’ :77, Al-Hijr:85)
• Tahap Kedua : Pada tahap ini jihad tidak dilarang dan tidak diperintahkan, tetapi hanya diizinkan. (Qs. Al-Hajj :38-40)
• Tahap Ketiga : Pada tahap ini jihad diwajibkan hanya untuk orang-orang yang memerangi kaum muslimin saja. (Qs. An-Nisaa’:90-91)
• Tahap Keempat : Di tahap ini jihad telah mewajibkan untuk memerangi semua orang-orang kafir secara umum sampai mereka beriman atau membayar jizyah secara terhina. Marhalah ini dimulai empat bulan setelah haji tahun kesembilan hijriyah. (Qs. At-Taubah : 5,29)
Para ulama bersepakat bahwa setiap hukum dari keempat macam hukum jihad tadi harus diterapkan pada kondisi yang pantas.
MACAM-MACAM JIHAD
• Tholabi (Ofensive) yaitu menyerang dan memerangi musuh di negeri mereka.
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Alloh dan tidak (pula) pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Alloh dan Rosul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Alloh), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” QS. At-Taubah:29
• Difa’i (Defensive) yaitu memerangi musuh yang terlebih dahulu menyerang kaum mukminin
“Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” QS. Al-Baqarah :190
HUKUM JIHAD
Jihad Hukumnya Fardhu Kifayah dan Menjadi Fardhu ‘Ain Dalam Beberapa Kondisi
Ibnu Qudamah berkata: “Makna fardhu kifayah adalah jika belum dilaksanakan oleh sejumlah orang yang mencukupi maka semua orang berdosa, dan jika sejumlah orang sudah mencukupi, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Perintah ini pada awalnya mengenai semua orang sebagaimana kewajiban yang fardhu ‘ain, kemudian hukum ini terpecah menjadi dua, satu sisi fardhu kifayah yang gugur dengan dilaksanakan sebagian orang, dan fardhu ‘ain yang tidak gugur dari seseorang walaupun sudah dilaksanakan orang lain.”
Jihad menjadi fadhu ‘ain dalam tiga keadaan:
• Pertama: Jika dua pasukan bertemu dan dua barisan saling berhadapan, haram bagi orang yang turut serta dalam peperangan tersebut mundur, posisi seperti ini adalah fardhu ‘ain berdasarkan firman Allah, QS. Al-Anfal:15-16,45-46
• Kedua: Jika orang-orang kafir menduduki salah satu negeri kaum muslimin, maka penduduknya harus (dan fardu ‘ain hukumnya) memerangi dan mengusir mereka.
• Ketiga: Jika imam memobilisasi secara umum terhadap suatu kaum, maka fardhu ‘ain bagi mereka untuk berperang bersamanya. (QS. At-Taubah:38)
JIHAD KONTEMPORER
Nah, dalam bagian ini disinggung beberapa gerakan yang mengatasnamakan jihad pada akhir-akhir ini. Ada 3 syarat yang menentukan berlakunya jihad :
• Wilayah (Wilayah Perang) Jihad hanya bisa dilakukan di wilayah perang bukan di wilayah damai. Penentuan wilayah perang di era globalisasi sekarang tidak bisa didefinisikan berdasar batas-batas geografis saja.
• Halah (Keadaan Perang) Jihad hanya bisa dilakukan dalam keadaan perang bukan dalam keadaan damai.
• Ghoyah (Tujuan atau Sasaran Perang) Sasaran jihad adalah orang-orang kafir yang memerangi ummat Islam atau membantu memerangi ummat Islam dengan senjata, kebijakan politik, dukungan dana dsb.
Terakhir di singgung tentang bom Manusia
Bom Syahid
1. Motivasi orang yang melakukan aksi bom syahid adalah keinginan untuk menegakkan kalimat Allah SWT.
2. Orang yang mati syahid mengorbankan dirinya dengan cara aksi bom manusia, buahnya adalah surga, sebagaimana janji Allah dalam banyak ayat al-Qur’an
3. Orang yang melakukan aksi bom manusia dalam rangka jihad, kesannya adalah dapat menggoncang musuh, menanamkan ketakutan pada hati musuh, atau melemahkan mental mereka dalam peperangan.
4. Bom syahid dilakukan untuk membunuh musuh-musuh Allah sebanyak mungkin, meskipun harus mengorbankan nyawa sendiri.*( Aksi istisyhaad ditujukan untuk menyerang musuh (kaum kafir) yang tengah menduduki negeri kaum Muslim, dengan catatan bahwa sasarannya tetap bukan kaum Muslim, atau tempat berkumpulnya kebanyakan orang Muslim seperti pasar, masjid dan sebagainya. Selain itu, menjadikan ahli dhimmah-Yahudi, Nasrani, atau orang musyrik yang hidup dalam naungan Islam sebagai sasaran aksi tersebut juga tidak dibenarkan.
5. Bom syahid dilakukan di wilayah perang (antara kaum muslimin melawan kaum kuffar) dan di tengah-tengah musuh dan dilakukan pada masa perang dan di medan perang.
Bom Bunuh Diri
1. Ingin mengakhiri hidup karena berbagai kesulitan duniawi yang tidak sanggup lagi dipikul, seperti penyakit berat, kegagalan cinta, kebangkrutan usaha, kehancuran rumah tangga, dsb.
2. Menerima adzab yaitu akan disiksa di neraka dengan cara yang sama yang digunakan untuk bunuh diri di dunia.
3. Orang yang bunuh diri kesannya hanyalah menimbulkan kesedihan dan kepedihan keluarga, dan sama sekali tidak ada kesan terhadap perlawanan kepada musuh.
4. Bom bunuh diri dilakukan untuk membunuh diri sendiri.
5. Bom bunuh diri dilakukan di luar wilayah perang dan tidak di tengah-tengah musuh dan dilakukan pada masa damai dan di tempat damai
Kemudian yangmenjadi pertanyaan, bagaimana dengan Amrozi dan beberapa kejadian bom akhir2 ini. Menanggapi hal ini ust. Anwar memberkan ulasan bahwa untuk kasus bomnya Amrozi, wallahu’alam. Karena Amrozi memang seorang mujahid yang pernah berjihad di Afghan, dan pengetahuan islamnya juga mendalam. Dan adapun kasus di Bali masih dicurigai yang meledak itu bukanlah bomnya namun ada bom lain yang tidak tau itu bom siapa. Berbeda dengan bom yangakhir-akhir ini dilakukan seperti di mariot dan Ritz-charlton. Kalo disini pelakunya adalah orang2 baru yang direkrut untuk mengebom. Dan diperkirakan unk pemahaman Agama islamnya masih dangkal atau belum sekelas amrozi ataupun imam Samudra, demikian juga bila melihat sasarannya operasi, maka dapat dikatakan itu menyimpang..

Senin, 03 Agustus 2009

Persiapan Menjelang Ramadhan

Oleh: Ust. Endang Abdul Rahman

Abu Umamah ra berkata:
“Ya Rasulullahu Saw tunjukkan padaku amalan yang bisa memasukanku ke syurga.” Beliau menjawab: “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu.” (HR. an-Nasa’i)

Dalam menyambut bulan Ramadhan, seringkali kita tidak punya persiapan sama sekali. Sehingga ketika datang bulan yang istimewa ini, sikap kita terhadap kedatangan bulan ini adalah seperti bulan-bulan biasa saja. Bahkan kadang-kadang kita menganggap bahwa bulan istimewa ini akan mendatangkan banyak beban. Na’udzubillah min dzalik! Dan seringkali juga kita tidak tahu tentang hukum-hukum syara’ yang terkait dengan bulan Ramadhan. Sehingga kita akan banyak melihat orang Islam yang melanggar hukum-hukum syara’ yang terkait di bulan Ramadhan.

Oleh karena itu ada beberapa persiapan yang patut dilakukan. Persiapan tersebut guna mendapatkan buah Ramadhan yang mahal dan dapat melakukan amaliyahnya secara optimal dan maksimal. Sehingga bukan saja merasa senang dan gembira dengan datangnya Ramadhan akan tetapi memang sudah dipersiapkan sematang mungkin untuk berlomba-lomba dalam aktifitas kebajikan.

1. Persiapan Nafsiyah
Yang dimaksudkan dengan mempersiapkan nafsiyah adalah menyambut dengan hati gembira bahwasanya Ramadhan datang sebagai bulan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Maknawiyah yang siap akan memandang Ramadhan bukan sebagai bulan penuh beban melainkan bulan untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas ubudiyah dan meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT.

Persiapan nafsiyah merupakan hal yang penting untuk diperhatikan dalam upaya memetik manfaat sepenuhnya dari ibadah puasa. Tazkiyatun nafsi (kesucian jiwa) akan melahirkan keikhlasan, kesabaran, ketawakalan dan amalan-amalan hati lainnya, yang akan menuntun seseorang kepada jenjang ibadah yang berkualitas dan kuantitas. Dan salah satu cara untuk mempersiapkan jiwa dan spritual untuk menyambut bulan Ramadhan adalah dengan jalan melatih dan memperbanyak ibadah-ibadah di bulan-bulan sebelumnya (minimal di bulan Sya’ban), sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah ra:

“Belum pernah Rasulullah Saw berpuasa (sunnah) di bulan-bulan lain, sebanyak yang ia lakukan di bulan Sya’ban.” [HR. Muslim].

Seorang yang menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadhan tanpa memiliki kesiapan secara nafsiyah dikhawatirkan puasanya akan menjadi sia-sia sebagaimana hadits Rasulullah Saw dengan sabdanya. Dari Abu Hurairah ra berkata, bersabda Rasulullah Saw:

“Berapa banyak orang berpuasa, tidak mendapatkan sesuatu pun dari puasanya kecuali lapar. Dan berapa banyak orang yang shalat malam, tidak mendapatkan sesuatu pun dari shalatnya melainkan hanya bergadang.” [HR. Ibnu Majah].

2. Persiapan Tsaqafiyah
Untuk dapat meraih amalan di bulan Ramadhan secara optimal maka diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai fiqh ash-shiyâm. Oleh karena itu persiapan tsaqafiyah tidak kalah penting bagi seseorang untuk mendapatkannya. Dengan pemahaman fiqh ash-shiyâm yang baik dia akan memahami dengan benar mana perbuatan yang dapat merusak nilai shiyamnya dan mana perbuatan yang dapat meningkatkan nilai dan kualitas shiyamnya.

Dari Mu’adz bin Jabal ra:
“Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah.”
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengomentari hadits diatas, “Orang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya.” Suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya, dan hanya dengan ilmu kita dapat mengetahui kaifiat berpuasa dan shalat yang benar serta sesuai dengan syariat Islam.

Jembatan menuju kebenaran adalah ilmu, dan siapa yang menempuh perjalanan hidupnya dalam rangka menuntut ilmu maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju Surga. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah SWT memudahkan baginya jalan menuju Surga.” [HR. Muslim].

3. Persiapan Jasadiyah

Tidak dapat dipungkiri bahwa aktifitas Ramadhan banyak memerlukan kekuatan fisik, untuk shiyamnya, tarawihnya, tilawahnya dan aktifitas ibadah lainnya. Dengan kondisi fisik yang baik dapat melakukan ibadah tersebut tanpa terlewatkan sedikitpun juga. Karena bila kondisi fisik tidak prima terbuka peluang untuk tidak melaksanakannya amaliyah tersebut dengan maksimal, bahkan dapat terlewatkan begitu saja. Padahal bila terlewatkan nilai amaliyah Ramadhan tidak dapat tergantikan pada bulan yang lain.

4. Persiapan Maliyah

Persiapan materi ini bukanlah untuk beli pakaian baru atau bekal perjalanan pulang kampung atau untuk membeli kue-kue iedul fitri. Akan tetapi untuk infaq, shadaqah dan zakat. Sebab nilai balasan infaq, shadaqah dan zakat akan dilipat gandakan sebagaimana kehendak Allah SWT.
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan:

“Rasulullah pernah ditanya, ‘Sedekah apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan’.”[HR. At-Tirmidzi)

Oleh karena itu, sebaiknya aktivitas ibadah di Bulan Ramadhan harus lebih mewarnai hari-hari kita ketimbang aktivitas mencari nafkah atau yang lainnya. Pada bulan ini setiap Muslim dianjurkan memperbanyak amal kebajikan, shadaqah, memberi makan, dan lain-lain. Karena itu, seyogyanya dibuat sebuah agenda maliyah yang memprediksikan pengeluaran dan pendapatan selama bulan Ramadhan. Dengan jelas posisi keuangan kita dapat melakukan penjadwalan dan mengalokasikan shadaqah dan infaq serta makanan yang akan kita berikan sepanjang bulan itu. Karena moment

Ramadhan merupakan moment yang paling tepat dan utama untuk menyalurkan ibadah maliyah kita.
Bulan Ramadhan merupakan bulan muwâsah (bulan santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok nasi.

Rasulullah Saw pada bulan Ramadhan ini sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah Saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh
Ibnu ‘Abbas ra:

“Nabi Saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya al-Qur’an. Jibril menemui setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya al-Qur’an. Rasulullah Saw ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.”[HR. Bukhari dan Muslim].

Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan materi yang memadai. Termasuk dalam persiapan maliyah adalah mempersiapkan dana agar dapat beri’tikaf dengan tenang tanpa memikirkan beban ekonomi untuk keluarga. Untuk itu, mesti dicari tabungan dana yang mencukupi kebutuhan di bulan Ramadhan.

5. Persiapan Ramadhan Untuk Anak Kita

Dalam menyambut bulan Ramadhan, kadangkala kita lupa/tidak pernah mempersiapkan anak-anak yang masih kecil dan baru akan belajar puasa

Mengantarkan anak untuk berpuasa dan memahami maknanya, sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Keberhasilan mengkondisikan anak, memerlukan persiapan sejak jauh hari.
Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan sebagai orang tua, untuk merancang pola pendidikan terbaik bagi putra-putri kita selama bulan Ramadhan.

5.1. Mengenalkan Ramadhan Lewat Cerita dan Mainan

Salah satu cara untuk mengenalkan Ramadhan kepada anak-anak kita adalah dengan kita memilih cerita-cerita mengenai kisah-kisah menarik seputar Ramadhan, baik mengenai sahabat atau Rasulullah yang berjuang di bulan Ramadhan, atau menggambarkan suasana puasa dan keutamaan bagi yang menjalankannya. Cara lain adalah dengan mengarang sendiri cerita yang ada hubungan dengan Ramadhan. Ini bisa dilakukan dengan cara menceritakan pengalaman kita menjalani ibadah puasa dimassa kecil kita.

Kita juga bisa memperkenalkan Ramadhan dengan mainan juga, dengan cara main puzzle yang bernuansa Islam, atau cara lain adalah dengan membeli mainan untuk komputer yang interaktif.
Ini semua bisa kita mulai seminggu atau beberapa hari sebelum datangnya bulan Ramadhan.

Tergantung pada umur anak, kita bisa sekaligus juga mengajak anak untuk membuat rencana kegiatan selama bulan Ramadhan nanti dan menentukan target-target yang ingin mereka capai. Kita juga harus memberi harapan bagi mereka untuk mencapai target-targetnya.

Dengan mengenalkan Ramadhan lewat cerita dan mainan, suasana Ramadhan sudah terbangun dalam alam pikiran anak. Sehingga ia akan mengharapkan kedatangan bulan ini dengan penuh semangat dan antusias.

5.2. Membangun Suasana yang Kondusif

Membangun suasan yang kondusif itu penting juga, karena ini akan mempengaruhi semangat anak. Salah satu cara adalah dengan mengubah penataan rumah. Misalnya mempersiapkan ruang khusus untuk sholat berjama’ah dan tadarus al-Qur’an. Ajak anak-anak menghiasi ruang tersebut dengan tulisan-tulisan kaligrafi dan gambar-gambar Islami. Cara lain adalah dengan mengubah letak permainan, tv, buku, atau majalah yang bersifat umum, dan diganti dengan majalah atau buku-buku Islam.

Kamar tidur anak dapat dihias dengan tulisan hadist, ataupun semboyan seputar puasa atau bulan
Ramadhan, yang akan membangkitkan semangat mereka jika nanti menahan lapar dan haus ketika puasa. Tempelkan juga target dan jadwal kegiatan yang telah disusun bersama anak, dan persiapkan stiker bintang yang siap ditempel untuk setiap rencana yang berhasil dicapai oleh anak kita. Kerjakan bersama anak agar ia termotivasi untuk mendapatkan bintang sebanyak mungkin sampai akhir Ramadhan. Di samping membangun suasana anggota keluarga, juga agar selama Ramadhan lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan ibadah.

Kita bisa juga mengkondisikan lingkungan bermain dan kehidupan sehari-hari si anak dengan menyenangkan sehingga anak akan tertarik untuk mulai turut mencoba. Misalnya dengan mengundang kawan-kawan dekatnya untuk bersama-sama berbuka puasa di rumah. Bisa juga sahur bersama, dengan menginap di rumah. Perasaan senang tanpa tekanan dalam beribadah sangat penting bagi anak-anak. Jika ibadah merupakan paksaan, di benaknya akan tersimpan secara tak sadar, bahwa ibadah identik dengan tekanan.

Membiasakan anak melakukan shalat terawih berjama’ah di masjid, bisa menjadikannya sebagai pengalaman yang tak terlupakan. Tadarrus al-Qur’an dan mabit (menginap) di mushalla untuk i’tikaf, mengikuti pesantren Ramadhan, ikut berkeliling kampung membangunkan orang untuk makan sahur, semuanya akan sangat menarik karena hanya ada dalam bulan Ramadhan.

5.3. Penyusunan Menu Makanan yang Bergizi

Ibu dapat mulai menyusun menu dengan gizi yang seimbang untuk anak yang puasa. Juga mulai melatih pola makan dari 3 kali sehari menjadi 2 kali saja. Bila dilihat dari pola kebiasaan makan, berpuasa sebetulnya hanya memindahkan jam, atau mengurangi satu kali waktu makan saja. Bila biasanya makan 3 kali sehari, menjadi 2 kali, yaitu waktu sahur dan waktu berbuka puasa.
Penyusunan menu ini untuk menghindari terjadinya kekurangan zat gizi pada anak. Kecukupan gizi pada anak akan terpenuhi apabila saat berbuka dan makan sahur mereka mengkonsumsi makanan yang beragam dalam jumlah yang cukup.

5.4. Bersahur Bersama Keluarga

Bila esok mulai berpuasa, berarti malam sebelumnya kita akan melaksanakan sholat terawih dan sahur. Melatih anak-anak untuk berpuasa dapat dimulai dengan belajar bangun malam untuk makan sahur bersama.

Untuk menarik minat anak, siapkan menu makanan kegemarannya dan buat suasana sahur menyenangkan baginya sehingga tidak merasa berat bangun tengah malam. Biarkan anak makan di akhir waktu sahur. Awal puasa, biarkan mereka coba dulu puasa hanya setengah hari. Ia akan berbuka pada tengah hari karena masih latihan. Dengan cara latihan yang bertahap seperti itu, si anak tidak merasa berat lagi untuk melakukan puasa.

6. Khatimah

Banyak sekali manfaat yang kita bisa ambil dengan anak-anak berpuasa. Misalnya dari sisi kesehatan, ibadah puasa memberikan istirahat pada organ-organ pencernaan tubuh, termasuk sistim enzim dan hormonal, yang kemudian akan bekerja kembali dengan lebih sempurna.
Selain itu anak-anak yang mencoba untuk ikut berpuasa, sesungguhnya sedang dilatih untuk berdisiplin.

Berdisiplin untuk bangun sahur pada malam hari, makan tepat waktu berbuka dan menahan nafsu. Termasuk sebagai latihan untuk taat pada perintah agama.
Latihan ini bukan hanya pada menahan lapar saja, tetapi lebih penting pada esensi berpuasa itu sendiri. Karenanya, bila memang belum waktunya anak puasa penuh, biarlah mereka berbuka di tengah hari. Termasuk dalam mendidik si kecil dalam hal puasa.

Pembiasaan puasa juga bisa mendidik anak-anak untuk jujur, misalnya mereka tetap berpuasa sekalipun teman-temannya di sekolah tidak. Kalaupun karena tidak kuat menahan lapar atau godaan teman ia terpaksa berbuka di luar rumah, anak juga bisa diajar untuk berterus-terang, bukan berbohong dan malu mengakui kesalahannya. Ini bisa dengan cara kita tidak marah sama mereka jika mereka berbuka karena tidak kuat atau karena godaan. (Iwan Setiawan DVL )

Catatan Kaki :
HR. an-Nasa’i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid), al-Hakim 1/421, sanadnya shahih.
HR. at-Tirmidzi kitab Zakat: 599, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah. Imam at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini gharib”.
Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dengan tambahan: “Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya.”

Jumat, 24 Juli 2009

Tiga Fenomena dalam Ramadhan

Oleh: Ustadz Abdurrahman Muhammad

"Mungkin hasil yang dicapai seorang shaaim (yang berpuasa) hanya lapar dan haus semata. Dan bisa jadi hasil yang diperoleh oleh orang yang shalat malam (giyamul-lail) hanyalah berjaga." (Riwayat Ahmad dan Hakim).

Ada tiga fenomena yang menonjol di bulan Ramadhan, yang menggambarkan betapa masih carut marutnya pemahaman umat Islam terhadap ajarannya sendiri.
Pertama, sebagian besar kaum Muslimin baru mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) setelah datangnya bulan Ramadhan. Selama sebelas bulan penuh mereka menjauhi al-Qur'an, menjauhi masjid, menjauhi kebaikan. Sebaliknya, mereka mendekati tempat-tempat kemungkaran, merapat pada kejahatan, dan melalaikan Allah SWT.

Tatkala Ramadhan tiba, mereka lalu seolah-olah baru tersentak kaget. Mereka bersiap menyambut puasa dengan mendatangi masjid beramai-ramai. Mereka seolah tenggalam dalam kekhusyukan dan kesahduan puasa di bulan Ramadhan. Mereka terlihat bersimpuh, merendahkan diri seolah-olah hendak menipu Allah SWT.

Pertanyaannya, bukankah mereka menyadari bahwa Tuhan pencipta bulan Ramadhan.juga pencipta bulan Sya'ban dan Syawwal? Bukankah mereka telah mengetahui bahwa Allah Maha Melihat perbuatan manusia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya? Lalu mengapa mereka baru terlihat sibuk beribadah pada bulan Ramadhan saja?
Wahai saudaraku, Allah senantiasa melihat, mengetahui, dan mencatat semua amalan kita, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Untuk itu, jangan berhenti berbuat baik hanya di bulan Ramadhan saja. Teruskan...!

Kedua, pada malam-malam bulan Ramadhan sebagian kaum Muslimin meramaikannya dengan shalat tarawih berjama'ah. Mereka berdatangan dari segala penjuru hingga masjid-masjid dan mushalla-mushalla penuh sesak bahkan meluber hingga ke jalan-jalan. Pemandangan ini sungguh sangat menggembirakan, tapi pertanyaannya, kemana mereka setelah Ramadhan berakhir?

Padahal shalat tarawih kedudukannya hanyalah sunnah, sedang shalat lima waktu adalah fardhu, yang wajib dilaksanakan secara berjamaah di masjid (bagi kaum pria yang mampu dan tidak ada halangan).
Pemahaman yang salah kaprah seperti yang dipraktikkan selama ini sudah saatnya diperbaiki. Kaum Muslimin sudah saatnya lebih cerdas dari sebelumnya. Mereka harus tahu bahwa amalan yang wajib harus diutamakan daripada amalan sunnah. Menjalankan shalat fardhu berjama'ah lebih penting dan lebih utama daripada shalat tarawih berjamaah.

Ketiga, kebiasaan buruk selama puasa adalah memperpanjang tidur pada siang hari. Ada sebagian yang meneruskan tidurnya setelah shalat Subuh hingga siang hari dan ada pula yang tidur mulai dari Dzuhur hingga Ashar. Dengan tidur sepanjang itu, di mana kenikmatan menjalankan puasa? Di mana kita berlatih menahan lapar, merasakan pahit getirnya nasib Para fuqara dan masakin?
Lebih ironis lagi jika malam-malam hari Ramadhan dihabiskan untuk begadang dengan melakukan perbuatan yang sia-sia, mendengarkan lagu-lagu lewat radio, menonton televisi hingga larut malam, atau melakukan permainan lainnya, sementara siang harinya justru dipakai untuk tidur. Lalu di mana makna iman di bulan Ramadhan?
Tidur siang hari memang tidak dilarang, jika dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Tetapi jika dilakukan dalam tempo yang sangat panjang, lalu di mana makna puasa? Jika Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam (SAW) dan para sahabat memanfaatkan bulan Ramadhan untuk berperang, lalu pantaskah jika kita justru menghabiskannya untuk tidur-tiduran?

*Pimpinan Umum Hidayatullah (Sahid edisi september 2008)
www.hidayatullah.or.id

Selasa, 21 Juli 2009

MEMBACA DALAM PERSPEKTIF ALQUR’AN

Oleh : Si Alif Kecil

Membaca… Kita sering sekali mendengar perkataan ini, bahkan pekerjaan membaca bagi seorang mahasiswa udah tiap hari di lakukan bahkan mungkin sebagian mengatakan “udah ampe’ bosen gw baca”. Seberapa penting sebenarnya kegiatan ini bagi peradaban manusia di muka bumi ini. Yang notabenenya manusia adalah hamba-Nya serta khalifahNya di muka bumi. Sampe-sampe perintah pertama kali yang Allah turunkan pada umat ini adalah perintah untuk membaca (Iqra’)
Bahkan, kalau kita telusuri peradaban di dunia ini berawal dari sebuah bacaan (buku). Lihat saja peradaban Yunani dimulai dengan munculnya buku Illiad karya Homer pada abad ke-9 SM dan berakhir dengan dan brakhir dengan lahirnyua Perjanjian baru. Sementara Peradaban Islam yang Gemilang juga dibangun dengan kekuatan yang tumbuh dari Al-Qur’an sebagai bacaan yang sempurna. Dari hal ini tidaklah berlebihan jika penulis mengatakan kalau bacaan adalah pilar dari sebuah peradaban.
Satu pertanyaan, apa membaca ini harus mesti ada tulisan sebagai obyek bacaan? Tidak. Membaca tidaklah harus ada tulisan namun memang harus ada obyek bacaan. Perhatikan perkataan yang terbiasa kita lontarkan seperti “Jangan kaget, kalau saya bisa baca fikiran anda” atau contoh lain “Dari gerak-geriknya kita bisa membaca apa yang akan dilakukan. Dari contoh tersebut sudah sangat jelas bahwa membaca tidak mengharuskan adanya bacaaan.

MEMBACA DALAM TINJAUAN AL-QUR’AN
Membaca… Sebegitu pentingkah kegiatan membaca itu, sehingga Allah dalam wahyuNya yang tersurat dalam Al-Qur’an adalah perintah untuk Membaca (Iqra’). Namun bagaimanakah iqra’ yang dimaksudkan Allah dalam Al-Qur’an itu. Dalam artikel ini penulis coba mengungkapkan bagaimanakah Membaca itu dalam perpektif Alqur’an.
Sebelum Allah memberikan perintah pada makhluknya (manusia) Allah sudah menyiapkan sarana-prasarana/instrument untuk melaksanakan perintahNya tersebut. Ketika Allah memerintahkan Manusia untuk mengelola atau menjadi khalifatullah fil ardh Allah telah mempersiapkan Alam semesta sebagai obyek yang harus dimakmurkan dan segala potensi yang dimiliki manusia, dimana potensi tersebut tak dimiliki makhluk lain. 

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(At-Tiin : 4)


Begitupula Allah memerintahkan manusia untuk membaca, maka Allah telah memberikan instrument untuk membaca. Sebagaimana telah diungkapkan di atas bahwa membaca tidak harus dengan adanya tulisan sebagai obyek bacaan. Namun membaca adalah suatu kegiatan mengumpulkan informasi melalui instrument yang telah Allah berikan kepada Manusia itu sendiri. Sebagaimana Allah sebutkan dalam surat As-Sajdah ayat 9 bahwa Allah telah memberikan pendengaran, penglihatan dan hati untuk dimanfaatkan manusia secara proporsional dan maksimal dalam kegiatan membaca.
“Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;…”


Bersamaan dengan itu Allah telah menciptakan ayat-ayat tanziliyah dan ayat kauniyahNya sebagai obyek bacaan dan sumber ilmu yang tak akan pernah habis dibahas, dipelajari dan ditulis oleh manusia.
58. Maka Terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan.
59. Kamukah yang menciptakannya, atau kamikah yang menciptakannya?
60. Kami Telah menentukan kematian di antara kamu dan kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,
61. Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.
62. Dan Sesungguhnya kamu Telah mengetahui penciptaan yang pertama, Maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?
63. Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam.
64. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya?
65. Kalau kami kehendaki, benar-benar kami jadikan dia hancur dan kering, Maka jadilah kamu heran dan tercengang.(Al-Waqi’ah 58-65)

17. Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,
18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?(Al-Ghasiyah: 17-20)

Dari rangkaian ayat-ayat dalam surat Al Waqi’ah dan Al-Ghasiyah di atas, kita dapatkan kesimpulan bahwa perintah untuk membaca tidak hanya membaca ayat-ayat tanziliyah namun juga diperintahkan untuk membaca ayat-ayat kauniyah dengan mengaktifkan mata, telinga dan hati dalam memperhatikan teori penciptaan, kejadian alam dan ayat-ayat kauniyah lainnya. Dan di dalam Al Qur’an masih banyak ayat-ayat yang senada dengan yang telah disebutkan.
Manusia yang tidak mengaktifkan potensi pendengaran, penglihatan dan hati yang telah Allah berikan padanya maka ia bagaikan binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.
“ Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”(Al-A’raf:179)

MUTU BACAAN = MUTU AMAL
Membaca tidak sekedar memadati otak sehingga hanya menjadi pengetahuan yang bersifat teoritis, namun dengan adanya ilmu yang diperoleh dari proses membca itu menuntut adanya adanya aksi atau aplikasi/pelaksanaan. Karena keluasan ilmu tanpa adanya pengamalan atas ilmu tersebut maka hanya akan menjadi saksi yang memberatkan dari pemiliknya di hadapan Mahkamah Ilahi.
Kualitas bacaan berbanding lurus dengan mutu amal. Kebenaran membaca sangat mempengaruhi kualitas amal. Amal yang tak berdasarkan bacaan (ilmu) adalah salah. Amal yang benar adalah amal yang berdasarkan pada kelengkapan referensi yang utuh. Sehingga amal tersebut berittiba’ pada Rasulullah SAW (mengikuti sesuai yang dicontohkan Rasulullah). Bahkan untuk syarat diterimanya sebuah amalan adalah ikhlas dan benar. Ikhlas karena niat dan tujuan karena Allah semata (Lillah dan Ilallah). Dan benar sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW (billah)
Sebagai penutup penulis mengingatkan bahwa sama’ (pendengaran), Bashar (penglihatan) dan af-idah(hati) akan dimintai pertanggungjawabannya di Hadapan Allah di yaumil akhir nanti.
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra:36)


Maraji’ : Panduan Dakwah Menyongsong Fajar Islam