Setiap zaman memiliki persoalan dan tantangan sendiri-sendiri. Ada kalanya persoalan menjadi hambatan yang menyulitkan, namun bisa juga menjadi jembatan menuju jalan kemudahan. Semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Mereka yang merasa menjadi korban dari berbagai masalah akan cenderung mengeluh dan menyalahkan pihak lain, sehingga langkahnya terhenti dan terjerembab ke dalam lubang yang gelap.
Tapi, orang yang bermental unggul akan berupaya mencari jalan keluar. Ia tidak putus asa dari berbagai kesulitan. Malah, kesulitan itu kian menantangnya untuk mengerahkan segala potensi diri. Ia tahu, di batas ketidakmampuan manusia, selalu ada kemudahan. Inilah sikap para inovator sejati. Muslim yang inovatif adalah Muslim yang mampu mengubah hambatan menjadi tantangan untuk beramal shalih.
Fitrah Inovatif
Dalam kehidupan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan karunia yang sangat banyak kepada manusia. Dia menciptakan bumi dan langit serta segala isinya untuk manusia. Dia Maha Mengatur dan Maha Memelihara bumi. Dia mempergilirkan siang dan malam agar manusia dan mahluk lainnya bisa hidup dengan nyaman.
Memang, ada berbagai masalah dalam kehidupan manusia. Tapi, Dia juga memberikan instrumen dan kemampuan kepada manusia untuk bisa menyelesaikannya.
Potensi yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia sangat besar, lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Bahkan, lebih besar dari potensi yang diberikan kepada malaikat sekali pun.
Allah Ta’ala telah memberikan kemampuan dan potensi lebih pada manusia sejak zaman Nabi Adam Alaihissalam, yakni potensi akal. Dengan akal inilah manusia bekreasi dalam kehidupan ini.
Malaikat memang salah satu makhluk Allah Ta’ala yang mulia karena ketaatannya. Tetapi, malaikat tidak diberi kemampuan berkreasi dalam kehidupan yang kompleks ini. Karena kemampuan kreasi itulah manusia diberikan peran dan tugas oleh Allah Ta’ala sebagai khalifah di muka bumi.
Sebagai hamba Allah Ta’ala yang pandai bersyukur, kita tentu tidak akan menyia-nyiakan potensi ini. Kita akan berusaha mendayagunakannya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, lebih makmur dan sejahtera. Tanpa upaya pengembangan, kehidupan di bumi ini tentu akan berhenti.
Mungkin barang-barang tambang akan tetap sebagai potensi di perut bumi, tak pernah dapat dimanfaatkan. Begitu pula tak ada peternakan, pertanian, atau industri. Hidup ini akan tetap seperti Zaman Batu karena tidak ada perkembangan peradaban.
Padahal, persoalan manusia terus berkembang. Karena itu, tanpa mendayagunakan kreatifitas pemberian Ilahi, manusia tak akan mampu menghadapi persoalan kehidupan ini.
Contoh sederhana, persoalan penyediaan pangan. Saat ini jumlah penduduk bumi sudah sangat banyak. Tidak sebanding dengan penambahan jumlah pangan. Menurut Robert Malthus, kenaikan jumlah pangan seperti deret hitung, sedang penambahan populasi manusia seperti deret ukur.
Bila teori ini benar-benar terjadi, dunia kini akan kacau balau. Kelaparan akan terjadi di mana-mana. Bahkan, akibat perut lapar, keributan akan mudah tersulut. Singkatnya, bumi akan mengalami guncangan dahsyat.
Namun kekhawatiran itu ternyata tak terjadi. Faktanya saat ini, kita masih bisa mendapatkan pangan dengan mudah. Semua ini karena anugerah yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia melalui kemampuan berinovasi. Kemampuan ini telah melahirkan berbagai temuan teknologi di segala bidang, termasuk pertanian.
Semangat Ihsan
Upaya agar menjadi lebih baik memang sudah menjadi dorongan universal dalam diri manusia. Di Barat, upaya ini dikenal dengan semangat inovasi. Melalui semangat ini ditemukanlah berbagai lompatan penemuan besar dalam berbagai bidang.
Di Jepang dikenal dengan semangat kaizen. Dengan semangat ini, industri Jepang selalu melakukan pengembangan. Meski skala kecil, namun karena terus-menerus, akhirnya Jepang banyak melahirkan produkproduk yang handal.
Sesungguhnya sikap untuk selalu menjadi lebih baik ini juga menjadi nilai yang tidak asing dalam Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mengajarkan agar kehidupan kita hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hebatnya, hal ini tidak terbatas hanya dalam kehidupan materi saja, tetapi dalam semua aspek kehidupan, termasuk spiritual.
Intinya setiap Muslim dalam setiap waktu harus menjadi lebih baik. Inilah yang dikenal dengan sikap ihsan. Secara bahasa, Ihsan berarti memperbaiki. Adapun secara istilah, ihsan berarti mengabdi kepada Allah Ta’ala seakan-akan kita melihat-Nya dan seakan-akan Allah Ta’ala melihat pengabdian kita. Ini akan menjadi motivasi terbesar untuk selalu mempersembahkan yang terbaik setiap saat.
Sudah seharusnya peradaban ini ditransformasi menjadi peradaban yang rahmatan lil alamin (rahmat untuk seluruh alam) dengan spirit ihsan. Berbagai kemajuan bukan bertujuan menghancurkan tetapi untuk kebahagiaan yang hakiki.
Nikmat Allah Ta’ala telah demikian besar kita rasakan. Lantas mengapa kita tak bersyukur dengan berbuat lebih baik kepada sesama? Allah Ta’ala berfirman… berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik kepadamu … (Al-Qashash [28]: 77)
Orang yang selalu lebih baik di hadapan Allah Ta’ala disebut oleh Rasulullah SAW sebagai orang yang beruntung. Adapun orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, menurut beliau, adalah orang yang merugi. Apalagi jika hari ini justru lebih buruk dari hari kemarin, maka ia dikategorikan orang yang celaka.
Buah Ihsan
Sudah sejauh mana kita mampu menjadikan persoalan hidup sebagai motivasi untuk bersikap ihsan? Ataukah kita justru masih sering memandangnya sebagai penghalang semata?
Mari kita berkaca kepada seseorang yang dihadapkan pada problema masyarakat yang hidup miskin di daerah yang subur. Ia bertanya dalam hati, “Mengapa masyarakat di daerah ini hidup miskin padahal alamnya sangat subur?”
Pertanyaan tersebut tidak berlanjut dengan sikap menyalahkan orang lain, apalagi menuduh dan mengumpat ke sana kemari. Ia lebih suka menghabiskan energinya untuk berkarya mengubah nasib masyarakat dari kemiskinan kepada kesuksesan. Solusi sederhana yang ia tempuh adalah mendirikan pesantren agrobisnis.
Bermodal sebidang tanah dan sedikit pengetahuan pertanian, ia ajak beberapa warga menanam buncis dan kentang. Hasilnya ternyata bagus. Keberhasilan ini mengundang minat banyak orang melakukan hal yang sama. Beberapa waktu kemudian masyarakat di sana mulai produktif. Kesejahteraan pun meningkat.
Tidak puas sampai di situ. Laki-laki itu kembali memutar otak guna membuat pupuk yang berkualitas tapi murah untuk masyarakat. Terciptalah karya inovatif yang selama ini tak pernah terpikirkan oleh orang lain.
Kotoran sapi, kambing, dan ayam, yang biasanya perlu didiamkan selama dua sampai empat bulan agar menjadi pupuk, kini tidak perlu selama itu. Proses pembusukan kotoran ternak tadi bisa berlangsung sempurna hanya dalam waktu beberapa hari saja. Bagaimana caranya?
Laki-laki itu menemukan tesis bahwa bakteri penghancur yang ampuh justru berada dalam perut manusia dan ikut keluar bersama air liur. Nah, dari mana menperoleh air liur? Jawabnya sederhana, dari air kumur santrinya ketika berwudhu.
Atas prestasi tersebut laki-laki itu mendapat anugerah Satyalancana Wira Karya dari Presiden yang kala itu dijabat BJ Habibie. Begitulah kisah orang-orang yang selalu berinovasi. Mudah-mudahan mereka mendapat pahala yang besar dari Allah Ta’ala dan pahala pula bagi orang-orang yang mengikutinya. Itulah buah dari ihsan.
Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa membuat satu cara yang baik, kemudian cara tersebut dikerjakan, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun,” (Riwayat Ibnu Majah). Wallahu a’lam. ***SUARA HIDAYATULLAH, MARET 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar