pagi tadi saya di ajak oleh saudara saya, Akhuna Sukarno Ridho untuk menemani beliau pertemuan ta'amir Masjid yang pembangunannya di bantu Yayasan Bina Al-Muwahiddin. dalam kesempatan itu ada pembinaan berupa kajian oleh ustadz Abul Hasan, mengenai Hadits Arba'in yg ke tujuh, yakni "Ad Diinu AnNashihatu" namun
bukan itu yang mau saya tuliskan disini, inshaAllah untuk hadits yang ke)tujuh bila ada kesempatan insha Allah di posting pada waktu yang akan datang. yang menarik dalam pertremuan tadi, sebelum acara dimulai dibagikan selebaran tentang Agama Ahmadiyah. yang mena selebaran itu menjelaskan secara Gamblang bahwa Ahmadiyah bukanlah Islam. oleh karena itu saya teringat tentang Hadits Nabi dalam Arba'in Nawawy yang ketiga yakni mengenai Rukun Islam. berikut haditsnya:
عَنِ أبي عبد الرحمن عبد الله بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطاب رَضِي اللَّهم عَنْهمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجّ ِ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ (رواه البخاري و مسلم)
“Dari Abi Abdur Rahman Abdullah bin Umar bin Khattab ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Islam dibangun berdasarkan 5 pondasi, yaitu : Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasulullah, mendirikan sholat, membayar zakat, haji dan puasa Ramadhan. (HR Bukhari dan Muslim)
Penjelasan dan Uraian Hadits
Ungkapan Rasulullah : ((بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ )) maksudnya siapa orang yang melakukan 5 perkara ini maka keislamannya telah sempurna. Layaknya seperti bangunan yang bisa berdiri dengan tiang-tiangnya, Islampun begitu juga berdiri tegak dengan tiangnya yaitu 5 perkara tersebut. Bangunan ini adalah bangunan abstrak yang menyerupai bangunan fisik. Segi persamaannya adalah bangunan fisik jika sebagian tiang penopangnya hancur maka bangunan itu tidak bisa sempurna berdiri demikian halnya dengan bangunan abstrak. Oleh karena itu Rasulullah bersabda :
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ
“Sholat itu adalah tiang agama, siapa yang meninggalkannya maka ia telah menghancurkan agama”. Dan demikianlah perumpamaan yang lain.
Diantara pernyataan-pernyataan mengenai bangunan abstrak, ada syair yang berbunyi :
Pemuka agamalah yang menjaga urusan hidup kami
Jika mereka lalai maka kejahatan kan dipatuhi
Manusia tanpa pemimpin tak kan mampu perbaiki
Pabila kaum bodoh merajai, para pemimpin tak berarti
Tanpa tiang rumah tak kan berdiri
Tanpa penopang gunung tak kan menjulang tinggi
Allah telah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman dan munafik. Allah berfirman : “Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya diatas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik”.(at-Taubah : 109). Bangunan orang mukmin disamakan dengan orang yang mendirikan bangunannya ditengah-tengah gunung yang kokoh dan bangunan orang kafir diibaratkan dengan orang yang membangun rumahnya dekat tepi laut yang mudah longsor. Bangunannya tidak kokoh, mudah dikikis ombak laut, lalu lerengnya longsor sehingga bangunannya roboh dan jatuh ke laut lalu tenggelam.
Ucapan Rasulullah SAW: ((بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ )) sama dengan بخَمْسٍ , jadi kata bantu ‘alaa mengandung makna kata bantu bi karena jika tidak maka tiang penopang itu tidak termasuk dalam bangunan. Dengan demikian jika kita mengambil makna eksplisitnya maka 5 hal tadi tidak termasuk bagian dalam Islam dan ini adalah pemahaman yang salah fatal. Kata bantu ( على )‘alaa di situ bisa juga berarti min ( من ) sebagaimana firman Allah SWT : إِلَّا عَلىَ أَزْوَاجِهِم
“kecuali terhadap isteri-isteri mereka”.(al-Mu’minun : 6). عَلىَ أَزْوَاجِهِم disini sama artinya dengan مِنْ أَزْوَاجِهِم
Lima hal yang disebutkan dalam hadits adalah inti bangunan adapun penyempurnanya seperti kewajiban-kewajiban dan sunah-sunah yang lain diibaratkan hiasan rumah.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِِ.
“Iman itu terbagi menjadi 70 lebih, yang paling tinggi derajat imannya adalah ucapan laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan”.(HR Bukhari dan Muslim)
Sabda Rasulullah SAW : ((وَحَجّ ِ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ )) demikianlah riwayat hadits ini mengedepankan haji daripada Ramadhan. Ini hanyalah bab urutan dalam hadits bukun urutan hukumnya. Karena puasa Ramadhan itu wajib sebelum haji. Namun dalam riwayat lain disebutkan puasa Ramadhan didahulukan dari pada haji.
GMP
13 tahun yang lalu






