Pages

 

Kamis, 08 September 2011

Kehidupan Yang Kedua [bukan dragon :p)

Alkisah di “negeri dongeng” ada kerajaan yang kaya raya, masyarakatnya berkecukupan dan makmur, sumber daya melimpah ruah. Kerajaan ini berada di sebuah pulau yang bisa membuat sesiapa melihat berdecak kagum sebab keindahannya. Pulau ini biasa disebut dengan pulau Gemintang, sehingga kerajaan ini disebut dengan kerajaan Gemintang. Ada sebuah kebiasaan unik yang dilakukan oleh rakyat di kerajaan ini. Rakyat di kerajaan Gemintang ini melakukan pemilihan raja, (kalo zaman sekarang ungkin seperti pemilu gitu) setiap 10 tahun sekali. Uniknya setiap selesai masa jabatan sang mantan raja dan keluarganya harus bersiap untuk dibuang ke pulau

Momongan. Sebuah pulau yang dikenal menakutkan nan mengerikan. Siapa yang datang ke pulau Momongan ini dipastikan tidak akan bertahan hidup, sebab di pulau ini masih berbentuk hutan rimba yang dipenuhi binatang pemangsa nan buas dan ganas. Disebabkan hal ini, sudah terlalu banyak raja mereka yang berakhir tragis, walaupun saat memerintah merasakan banyak kemuliaan dan kekuasaaan namun ketika dibuang ke pulau Momongan tidak ada yang bisa bertahan hidup.

Maka pada pemilihan raja kali ini banyak yang enggan menjadi raja lagi. Akhirnya ada seorang yang mau menjadi raja. Dan raja kali ini agak berbeda dengan raja-raja sebelumnya. Raja kali ini dapat dikatakan raja yang sangat cerdas, sebab dia tau benar bahwa dia akan menghadapi kehidupan yang kedua, yakni di pulau Momongan. Maka pada masa pemerintahannya pada tahun pertama sang raja memerintahkan ribuan prajuritnya untuk membabat sebagian hutan, dan memburu binatang buas yang ada di pulau Momongan. Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya sang raja selain memerintah kerajaan Gemintang juga membangun pulau Momongan menjadi pulau yang tak kalah indah dengan pulau Gemintang. Bahkan ketika masa jabatannya selesai pulau Momongan menjadi lebih indah daripada pulau gemintang. Setelah 10 tahun menjabat menjadi raja, sang raja pun mesti mengikuti adat biasanya yaitu dibuang ke pulau Muomongan. Namun sekarang pulau Momongan sudah berbeda, pulau ini tak seperti sedia kala yang hutan lebat, namun berupa pulau yang mencegangkan dengan sebuah istana yang manawan hati sesiapa memandang. Maka berbeda dengan raja yang lain, raja ini tidak mati dimangsa binatang buas. Namun menikmati hidup bersama keluarganya.

Memang kisah diatas hanyalah fiktif belaka, namun pada dasarnya kita di dunia ini juga seperti raja tadi. Kita punya “the second life”, hidup yang kedua. Kita punya jatah hidup di dunia ini layaknya raja yang memerintah tadi, bedanya jatah hidup ini kita tidak kita ketahui sebab kapanpun bisa jadi jatah hidup ini bisa habis. Oleh karena itu hendaknya persiapan untuk kehidupan yang kedua ini hendaknya kita persiapkan lebih dini. Allah berfirman dalam surah Luqman 34: ……dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Senada dengan hal ini Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasalaam, pernah berwasiat kepada ibnu Umar sebagaimana tertulis dalam Arba’in nawawiyah:

عَنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّهم عَنْهممَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ >>رواه البخاري

“Dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu’alayhi wassallam memegang bahuku lalu bersabda: “Jadilah dirimu di dunia ini seperti seorang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika kamu berada di sore hari janganlah menunggu pagi, dan jika kamu dalam keadaan pagi janganlah menunggu sore. Ambillah sehatmu untuk sakitmu dan hidupmu untuk matimu”.(HR Bukhari).

Rasulullah mengibaratkan hidup di dunia ini bagaikan orang asing atau seorang musafir, artinya kita ini hanya berada dalam sebuah perjalanan untuk menuju rumah kita yang sesungguhnya yaitu akhirat. Nah, bagaimana bentuknya rumah diakhirat tergantung bagaimana kita membangunnya di dunia.

Selamat merenung…! :)

Minggu, 12 Juni 2011

ARBA'IN NAWAWY: Hadits ke-3 (Rukun Islam)

pagi tadi saya di ajak oleh saudara saya, Akhuna Sukarno Ridho untuk menemani beliau pertemuan ta'amir Masjid yang pembangunannya di bantu Yayasan Bina Al-Muwahiddin. dalam kesempatan itu ada pembinaan berupa kajian oleh ustadz Abul Hasan, mengenai Hadits Arba'in yg ke tujuh, yakni "Ad Diinu AnNashihatu" namun

bukan itu yang mau saya tuliskan disini, inshaAllah untuk hadits yang ke)tujuh bila ada kesempatan insha Allah di posting pada waktu yang akan datang. yang menarik dalam pertremuan tadi, sebelum acara dimulai dibagikan selebaran tentang Agama Ahmadiyah. yang mena selebaran itu menjelaskan secara Gamblang bahwa Ahmadiyah bukanlah Islam. oleh karena itu saya teringat tentang Hadits Nabi dalam Arba'in Nawawy yang ketiga yakni mengenai Rukun Islam. berikut haditsnya:

عَنِ أبي عبد الرحمن عبد الله بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطاب رَضِي اللَّهم عَنْهمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجّ ِ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ (رواه البخاري و مسلم)
“Dari Abi Abdur Rahman Abdullah bin Umar bin Khattab ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Islam dibangun berdasarkan 5 pondasi, yaitu : Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad rasulullah, mendirikan sholat, membayar zakat, haji dan puasa Ramadhan. (HR Bukhari dan Muslim)
Penjelasan dan Uraian Hadits

Ungkapan Rasulullah : ((بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ )) maksudnya siapa orang yang melakukan 5 perkara ini maka keislamannya telah sempurna. Layaknya seperti bangunan yang bisa berdiri dengan tiang-tiangnya, Islampun begitu juga berdiri tegak dengan tiangnya yaitu 5 perkara tersebut. Bangunan ini adalah bangunan abstrak yang menyerupai bangunan fisik. Segi persamaannya adalah bangunan fisik jika sebagian tiang penopangnya hancur maka bangunan itu tidak bisa sempurna berdiri demikian halnya dengan bangunan abstrak. Oleh karena itu Rasulullah bersabda :
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ
“Sholat itu adalah tiang agama, siapa yang meninggalkannya maka ia telah menghancurkan agama”. Dan demikianlah perumpamaan yang lain.
Diantara pernyataan-pernyataan mengenai bangunan abstrak, ada syair yang berbunyi :

Pemuka agamalah yang menjaga urusan hidup kami
Jika mereka lalai maka kejahatan kan dipatuhi
Manusia tanpa pemimpin tak kan mampu perbaiki
Pabila kaum bodoh merajai, para pemimpin tak berarti

Tanpa tiang rumah tak kan berdiri
Tanpa penopang gunung tak kan menjulang tinggi


Allah telah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman dan munafik. Allah berfirman : “Maka apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya diatas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik”.(at-Taubah : 109). Bangunan orang mukmin disamakan dengan orang yang mendirikan bangunannya ditengah-tengah gunung yang kokoh dan bangunan orang kafir diibaratkan dengan orang yang membangun rumahnya dekat tepi laut yang mudah longsor. Bangunannya tidak kokoh, mudah dikikis ombak laut, lalu lerengnya longsor sehingga bangunannya roboh dan jatuh ke laut lalu tenggelam.
Ucapan Rasulullah SAW: ((بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ )) sama dengan بخَمْسٍ , jadi kata bantu ‘alaa mengandung makna kata bantu bi karena jika tidak maka tiang penopang itu tidak termasuk dalam bangunan. Dengan demikian jika kita mengambil makna eksplisitnya maka 5 hal tadi tidak termasuk bagian dalam Islam dan ini adalah pemahaman yang salah fatal. Kata bantu ( على )‘alaa di situ bisa juga berarti min ( من ) sebagaimana firman Allah SWT : إِلَّا عَلىَ أَزْوَاجِهِم
“kecuali terhadap isteri-isteri mereka”.(al-Mu’minun : 6). عَلىَ أَزْوَاجِهِم disini sama artinya dengan مِنْ أَزْوَاجِهِم
Lima hal yang disebutkan dalam hadits adalah inti bangunan adapun penyempurnanya seperti kewajiban-kewajiban dan sunah-sunah yang lain diibaratkan hiasan rumah.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِِ.
“Iman itu terbagi menjadi 70 lebih, yang paling tinggi derajat imannya adalah ucapan laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan”.(HR Bukhari dan Muslim)
Sabda Rasulullah SAW : ((وَحَجّ ِ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ )) demikianlah riwayat hadits ini mengedepankan haji daripada Ramadhan. Ini hanyalah bab urutan dalam hadits bukun urutan hukumnya. Karena puasa Ramadhan itu wajib sebelum haji. Namun dalam riwayat lain disebutkan puasa Ramadhan didahulukan dari pada haji.

Senin, 06 Juni 2011

Apakah Anda Terjangkiti Penyakit Riyaa'?

(Coba Uji Diri Sendiri Pakai Tes Berikut Ini!!!)



Keikhlasan merupakan amalan hati tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, bahkan terkadang seseorang merasa dirinya telah ikhlas namun ternyata ia tidak ikhlas, bahkan ternyata ia telah terjangkiti penyakit riyaa' tanpa ia sadari. Oleh karenanya seorang muslim hendaknya senantiasa mengecek kondisi relung-relung hatinya pada lubuk hatinya yang paling dalam.

Berikut ini beberapa pertanyaan yang membantu kita –baik para pembaca sekalian maupun si penulis sendiri- untuk mengetahui jauh dekatnya diri kita dari keikhlasan, demikian untuk mengetahui juga parah tidaknya penyakit riyaa' yang telah menjangkiti kita. Dan diharapkan pertanyaan-pertanyaan berikut dijawab dengan jujur dan teliti.


Pertama :
Apakah engkau senantiasa berhenti sejenak sebelum beramal apapun (baik sebelum sholat, sebelum berdakwah, sebelum menulis sebuah tulisan ilmiyah, sebelum menulis status maupun catatan, atau memberi komentar di facebook, dll) untuk mengecek apakah niatku sudah benar ikhlas karena Allah atau tidak??

(Selalu – sering – terkadang –jarang – hampir tidak pernah)


Untuk menjawab pertanyaan ini ada sebaiknya kita merenungkan atsar berikut ini :

Ada orang yang berkata kepada Naafi' bin Jubair rahimahullah, "Apakah engkau tidak menghadiri janazah?" maka beliaupun berkata,"Tetaplah di tempatmu hingga aku berniat". Beliaupun berfikir sejenak lantas beliau berkata, "Mari kita jalan" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam 29).

Kedua :
Apakah engkau senantiasa berusaha menjadikan kecintaan dan kebencian pada seseorang adalah karena Allah bukan karena perkara dunia apapun?

(Selalu –sering –terkadang –jarang –hampir tidak pernah)


Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita renungkan yang berikut ini :

Kita semua mengetahui akan keutamaan cinta dan benci karena Allah. Betapa indahnya tatkala kita mengucapkan kepada saudara kita Uhibbuka fillah (Aku mencintaimu karena Allah), lantas saudara kita menjawab Ahabbakallahu aldzii ahbatnii fiih (Semoga Allah –yang engkau mencintaiku karenaNya- juga mencintaimu). Kita semua sudah mengetahui sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Tali keimanan yang paling kuat adalah berwalaa' karena Allah dan memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 998)


Bukankah kita tahu bahwasanya yang hanya boleh dibenci secara mutlak seratus persen hanyalah orang kafir, sedangkan seorang muslim yang bercampur pada dirinya maksiat dan ketaatan maka tidak boleh kita membencinya secara total. Demikian juga seorang muslim yang tercampur pada dirinya sunnah dan bid'ah maka tidak boleh kita membencinya secara total. Akan tetapi kita mencintainya sesuai dengan kadar ketaatan dan sunnah yang dilakukannya dan kita membencinya sesuai dengan kadar maksiat dan bid'ah yang dilakukannya. (lihat penjelasan Ibnu Taimiyyah dalam Majmuu' Al-Fataawaa) Inilah penerapan yang benar dari kaidah Al-Walaa wal Baroo'.

Namun sering kita dapati :

* Ternyata terkadang kita sangat membenci saudara kita yang menyelisihi kita dalam beberapa perkara, padahal perkara-perkara tersebut merupakan perkara khilafiah ijtihadiah
* Terkadang kita membenci saudara kita secara total padahal saudara kita tersebut hanya terjerumus dalam sebuah bid'ah dan kita telah mengetahui semangatnya dalam melaksanakan sunnah dan ketaatan kepada Allah.
* Terkadang kita ikut-ikutan mentahdziir dan menghajr saudara kita sesama ahlus sunnah bukan karena Allah, akan tetapi lantaran kita takut kalau kita tidak ikut mentahdzir maka kitalah yang kena tahdzir dan dihajr, padahal batin kita menolak hal tersebut???!!!. Ini berarti kita beramal karena selain Allah, mentahdzir bukan karena takut kepada Allah akan tetapi karena takut kepada manusia.

Ketiga :
Apakah engkau senantiasa bergembira tatkala ada orang lain (dari manapun juga dia, dan dari pondok atau yayasan atau lulusan manapun) yang ikut menyebarkan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah?

(selalu – sering – terkadang – jarang – hampir tidak pernah).



Suatu penyakit yang sering menimpa seorang da'i tatkala datang seorang da'i yang lain yang lebih berilmu atau lebih pandai berceramah bahkan lebih disukai oleh para pendengar atau pemirsa. Terkadang seseorang berdakwah selama bertahun-tahun dan berhasil mengumpulkan banyak pengikut, dan selama itu ia merasa bahwa dirinya telah ikhlas dalam berdakwah. Namun kebenaran keikhlasannya teruji tatkala datang seorang da'i yang lebih piawai daripada dirinya. Di sinilah akan nampak apakah ia ikhlas ataukah tidak. Jika dia ikhlas tentunya ia akan sangat bergembira karena ada dai yang lain yang membantunya dalam menyebarkan dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, terlebih lagi akan bertambah kegembiraannya tatkala ia tahu bahwasanya dai tersebut sangat pandai dalam berdakwah.

Akan tetapi jika ternyata selama ini dakwah yang ia bangun bukan di atas keikhlasan maka yang timbul adalah rasa hasad dan dengki yang amat sangat terhadap dai tersebut.

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata, "Orang yang berdakwah kepada selain Allah terkadang berdakwah kepada dirinya sendiri, ia berdakwah kepada al-haq (kebenaran) agar ia diagungkan di hadapan masyarakat dan dihormati" (Al-Qoul Al-Mufiid 1/126) Beliau juga berkata, "Banyak orang yang kalau berdakwah kepada kebenaran mereka berdakwah kepada diri mereka sendiri" (Al-Qoul Al-Mufiid 1/136)

Cukuplah bagi kita kisah berharga yang pernah di alami oleh Al-Imam Al-Bukhari, dimana beliau ditahdzir dan dihajr oleh gurunya sendiri karena hasad (sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim dalam As-Sowaa'iq Al-Mursalah dan juga Ibnu Hajr dalam Hadyu As-Saari). Padahal sebelum kedatangan Imam Al-Bukhari maka gurunya tersebut banyak memuji beliau dan menganjurkan murid-muridnya untuk menghadiri majelis Imam Al-Bukhari. Namun tatkala majelis Imam Al-Bukhari ternyata dihadiri banyak orang maka timbullah hasad dalam diri sang guru tersebut.

Keempat :
Apakah engkau senantiasa mengecek niatmu di tengah amalmu?

(selalu – sering –terkadang – jarang – hampir tidak pernah)

Kita harus menyadari bahwasanya meraih keikhlasan adalah perkara yang sulit, akan tetapi lebih sulit lagi adalah menjaga keikhlasan tersebut. Ada dua bentuk menjaga kelanggengan keikhlasan
* Menjaga keikhlasan agar tetap langgeng pada amalan-amalan berikutnya.
* Menjaga keikhlasan tatkala sedang beramal. Yaitu sebagaimana kita ikhlas tatkala memulai amalan (di awal amalan) demikian juga kita berusaha menjaga keikhlasan tersebut tatkala melakukan amalan.

Sufyan At-Tsauri pernah berkata,
"Tidak pernah aku meluruskan sesuatu lebih berat dari meluruskan niatku, karena niatku selalu berbolak-balik padaku" (jaami'ul 'Uluum wal Hikam 29)

Sungguh benar perkataan Sufyan, niat selalu berbolak-balik dan berubah-ubah. Sulaiman bin Dawud Al-Haasyimi berkata,
"Terkadang aku menyampaikan sebuah hadits dan aku memiliki niat yang benar dalam menyampaikan hadits tersebut. Maka tatkala aku menyampaikan sepenggal dari hadits tersebut berubahlah niatku. Ternyata untuk menyampaikan satu hadits membutuhkan banyak niat" (Jaami'ul 'Uluum wal Hikam 41)

Kelima :
Apakah engkau selalu berusaha menyembunyikan segala amalan sholehmu?

(selalu – sering – terkadang – jarang – hampir tidak pernah)

Menyembunyikan amalan merupakan perkara yang sulit sekali, karena memang hati kita berusaha dan gembira tatkala ada orang yang mengetahui amalan sholeh kita, sehingga orang tersebut akan tahu kedudukan kita. Akan tetapi barangsiapa yang berusaha untuk menyembunyikan amalan sholehnya serta membiasakan dirinya dengan hal itu maka akan dimudahkan oleh Allah. Para salaf dahulu berusaha untuk menyembunyikan amalan mereka

(silahkan lihat http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/1-ikhlas-dan-bahaya-riya?start=2)


Keenam :
Apakah engkau selalu tidak terpengaruh dengan pujian dan celaan masyarakat, karena yang engkau perhatikan hanyalah penilaian Allah dan bukan penilaian manusia?

(Selalu – sering –terkadang – jarang – hampir tidak pernah)

Inilah hakekat inti dari keikhlasan, yaitu seseorang hanya menyibukan hatinya untuk mengetahui bagaimana penilaian Allah terhadap amal sholeh yang ia kerjakan, dan tidak peduli dengan penilaian masyarakat. Sungguh ini merupakan perkara yang sulit dan butuh perjuangan yang sangat berat untuk bisa mencapai hal ini. Oleh karenanya di antara definisi ikhlas adalah :
"Melupakan pandangan makhluq (manusia) dengan selalu memandang kepada Maha Pencipta" (Tazkiyatun Nafs 13)

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah sebagai renungan bagi kita semua, yang mungkin selama ini di antara kita ada yang telah merasa ikhlas dan terlepas dari riyaa' maka hendaknya kita bermuhasabah dengan pertanyaan-pertanyaan di atas.

*dari note Akhuna Wira Pekik Amiruddinn

Rabu, 01 Juni 2011

Pintu-Pintu Pahala


Siapa yang tidak mau ke surga? ah, saya kira semua dari kita mau dong masuk surga. nah, ini ada beberapa amalan-amalan (beberapa lo ya, artinya masih banyak yang lain) yang inshaAllah bila kita lakukan dengan dasar Iman dan niat Ikhlas, bisa membawa kita ke Surga. walaupun kita tahu bahwa surga itu tak sebanding dengan Amal shalih kita. banyak ayat Qur'an yang menjelaskan hal ini, contohnya dalam surah Baqarah ayat 25 berikut:
وَ بَشِّرِ الَّذِيْن آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ....
(25Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal ­shalih, bahwasanya untuk mereka adalah surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai­ sungai...


Taubat, "Barangsiapa bertaubat sebelum terbitnya matahari dari arah barat, niscaya Allah akan menerima taubatnya." (HR. Muslim : 2703) "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menerima taubat seorang hamba selama belum meregang ajalnya."
Keluar untuk mencari ilmu, "Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga." (HR. Muslim : 2699)
Dzikir kepada Allah, "Maukah kalian aku beritahu tentang suatu perbuatan yang terbaik bagimu, tersuci bagi Tuhanmu, tertinggi dalam derajatmu, lebih baik daripada menafkahkan emas dan perak serta lebih mulia daripada peperangan dengan musuhmu?" Mereka menjawab: "Tentu kami mau." Beliau meneruskan: "Yaitu dzikrullah." (HR. At Tirmidzi : 3347)
Berbuat kebajikan dan menunjukkan pada perbuatan baik, "Setiap kebajikan merupakan sedekah dan orang yang menunjukkan kepada kebajikan mendapat pahala seperti orang yang melaksanakan kebaikan tersebut." (HR. Al Bukhari 10/374, Muslim : 1005)
Dakwah kepada jalan Allah, "Barangsiapa mengajak kepada hidayah, maka baginya seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun." (HR. Muslim : 2674)
Amar ma'ruf nahi mungkar, "Barangsiapa melihat kemungkaran hendaknya dia mengubah-nya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya dan apabila tidak mampu juga, maka dengan hatinya, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim : 49)
Membaca Al Qur'an, "Bacalah Al Qur'an karena ia akan memberi syafa'at pada hari Kiamat bagi yang membacanya." (HR. Muslim : 804)
Belajar Al Qur'an dan mengajarkannya, "Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang belajar Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al Bukhari 9/66)
Memberi salam, "Kalian tidak akan masuk Surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukah kalian aku beritahu tentang suatu perbuatan yang jika kalian lakukan niscaya kalian saling menyayangi? Sebarkan salam di antara kalian." (HR. Muslim : 54)
Cinta karena Allah, "Sesungguhnya Allah berfirman pada hari Kiamat: Manakah hambaKu yang saling mencintai karena keagunganKu, hari ini Aku menaunginya dalam naunganKu pada hari yang tiada naungan kecuali naunganKu." (HR. Muslim : 2566)
Mengunjungi orang sakit, "Setiap muslim yang mengunjungi sesama muslim lain yang sakit pada pagi hari, niscaya ada tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya hingga sore hari, jika ia mengun-junginya pada saat petang, niscaya ada tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya hingga pagi hari, dan baginya buah-buahan di Surga." (HR. At Tirmidzi : 969)
Menolong orang lain, "Barangsiapa memudah-kan orang yang sedang susah, niscaya Allah akan memudahkan baginya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim : 2699)
Menjaga aib orang lain, "Bila seorang hamba menutupi aib hamba lain, niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat." HR. Muslim : 2590)
Silaturrahim, "rahim (persaudaraan) tergantung pada 'Arsy, ia berkata: Barangsiapa menghubung-kanku, niscaya Allah akan menghubungkannya dan barangsiapa memutuskanku, niscaya Allah akan memutuskannya pula." (HR. Al Bukhari 10/350, Muslim : 2555)
Akhlak mulia, "Yang paling banyak memasukkan ke dalam Surga adalah taqwa terhadap Allah dan akhlak mulia." (HR. At Tirmidzi : 2003)
Kejujuran, "Hendaklah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran mengajak kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan mengajak kepada Surga."(HR. Al Bukhari 10/423, Muslim : 2607)
Menahan amarah, "Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, niscaya Allah akan menyerunya pada seluruh makhluk pada hari Kiamat hingga ia diberi kesempatan memilih bidadari yang ia inginkan." (HR. At Tirmidzi : 2022)
Kaffarah Majlis, "Barangsiapa duduk dalam suatu majlis yang banyak debatnya kemudian ia mengucapkan: (Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan segala pujiMu, tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepadaMu) Niscaya Allah akan mengampunkan semua yang terjadi dalam majlis tersebut." (HR. At Tirmidzi 3/153)
Kesabaran, "Jika seorang muslim tertimpa suatu musibah, cobaan, dirundung kesedihan, kesusahan atau ditimpa kesakitan, hingga tertusuk duri, dan ia bersabar, niscaya Allah akan menghapuskan darinya sebagian kesalahannya." (HR. Al Bukhari 10/91)
Berbakti pada kedua orang tua, "Sungguh merugi, merugi dan merugi, orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya pada masa tua, namun ia tidak masuk Surga." (HR. Muslim : 2551)
Membantu janda dan orang miskin, "Orang yang membantu janda dan orang miskin seperti orang yang berjuang di jalan Allah. Atau seperti orang yang memperbanyak shalat dan senantiasa berpuasa." (HR. Al Bukhari 10/366)
Menanggung kehidupan anak yatim, "Saya dan orang yang menanggung anak yatim, nanti di Surga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan dua jarinya; telunjuk dan tengah. (HR. Al Bukhari 10/365)
Berwudhu, "Barangsiapa berwudhu dengan baik, niscaya kesalahannya keluar dari tubuhnya, hingga keluar dari bawah kukunya." (HR. Muslim : 245)
Syahadat setelah berwudhu, "Barangsiapa berwudhu dengan baik kemudian mengucapkan: (Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang bertaubat dan golongan orang-orang yang mensucikan diri). Niscaya akan dibukakan baginya pintu Surga
Doa sesudah adzan, "Barangsiapa setelah mendengar adzan mengucapkan: (Ya Allah Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, dan shalat yang akan didirikan ini, berilah Muhammad wasilah dan keutamaan dan berilah ia tempat mulia yang Engkau janjikan). Niscaya ia mendapatkan syafa'atku pada hari Kiamat." (HR. Al Bukhari 2/77)
Membangun masjid, "Barangsiapa membangun masjid hanya untuk mencari ridha Allah, niscaya akan dibangunkan sepertinya baginya di Surga." (HR. Al Bukhari : 450)
Bersiwak, "Kalaulah tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan untuk bersiwak setiap kali shalat." HR. Al Bukhari 2/331, Muslim : 252)
Pergi ke masjid, "Barangsiapa pergi ke masjid di waktu pagi atau sore, niscaya Allah menyediakan baginya tempat di Surga setiap kali ia pergi ke masjid di waktu pagi maupun sore hari." (HR. Al Bukhari 2/124, Muslim :669)
*******




Bila tiba saatnya kelak ...,
kita menghadap ALLah Yang Perkasa.

Hanya ada satu harapan dan satu permintaan,
semoga kita menjadi penghuni surga.

Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah
kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan.

Hari ini.., semoga masih ada usia, untuk mengejar
surga itu, dengan amal-amal yang nyata :
"memperbaiki diri dan mengajak orang lain"

Rasulullah telah mengingatkan, "Barangsiapa yang
lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh
nasabnya."




*******

Minggu, 29 Mei 2011

BAGAIMANA HENDAKNYA KITA BERSAUDARA??

Al-Ukhuwah Al-Islamiyah


Perjuangan Islam tidak akan tegak tanpa adanya ukhuwah islamiyah. Islam menjadikan persaudaraan dalam islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa kesatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah SWT merupakan ikatan terkuat yang tiada tandingannya. Perpecahan di kalangan umat dewasa ini terjadi disebabkan mereka tidak memenuhi persyaratan ukhuwah, yaitu kurangnya mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang bersungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, ketaatan beribadah dan ketakwaan sebagai solusi dari perpecahan umat. Lihat Q.S.49:10 dan 8 :1. Oleh karena itu untuk mencapai nikmatnya ukhuwah, perlu kita ketahui beberapa proses terbentuknya ukhuwah islamiyah antara lain :

1. Melaksanakan proses ta’aruf (saling mengenal). Literaturnya : 49:13

Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran(Fikriyyan). Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan thd suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi/diikuti,dll. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku. Setiap manusia tentunya punya keunikan dan kekhasan sendiri yang memepengaruhi kejiwaannya. Proses ukuhuwah islamiyah akan terganggu apabila tidak mengenal karakter kejiwaan ini.

2. Melaksanakan proses tafahum (saling memahami)
Saling memahami adalah kunci ukhuwah islamiyah. Tanpa tafahum maka ukhuwah tidak akan berjalan. Proses ta’aruf/pengenalan dapat deprogram namun proses tafahum dapat dilakukan secara alami bersamaan dgn berjalannya ukhuwah. Dengan saling memahami maka setiap individu akan mudah mengatahui kekuatan dan kelemahannya dan menerima perbedaan. Dari sini akan lahirlah ta’awun (saling tolong menolong) dalam


persaudaraan. Ukhuwah tidak dapat berjalan apabila seseorang selalu ingin dipahami dan tidak berusaha memahami org lain. Saling memahami keadaan dilakukan dgn cara penyatuan hati,
pikiran dan amal. Allah-lah yang menyatukan hati manusia.

3. Melakukan At-Ta’aawun (saling tolong menolong). Q.S. 5::2

Bila saling memahami sudah lahir maka timbullah rasa ta’awun. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan amal (saling membantu). Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Manusia adalah makhluk social yang butuh berinteraksi dan butuh bantuan orang lain. Kebersamaan akan bernilai bila kita mengadakan saling membantu.
.

4. Melaksanakan proses takaful (saling menanggung/senasib sepenanggungan)

yang muncul setelah proses ta’awun berjalan. Rasa sedih dansenang diselesaikan bersama. Takaful adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Banyak kisah dan hadits Nabi SAW dan para sahabat yang menunjukkan pelaksanaan takaful ini. Seperti ketika seorang sahabat kehausan dan memberikan jatah airnya kepada sahabat lainnya yang merintih kehausan juga, namun setelah diberi, air itu diberikan lagi ek sahabat yang lain, terus begitu hingga semua mati dalam kondisi kehausan. Mereka saling mengutamakan saudaranya sendiri dibandingkan dirinya (itsar). Inlah cirri utama dari ukhuwah islamiyah. Hadits : Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri (HR. Bukhari-Muslim).
Betapa indah ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah SWT. Bila umat islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Kesatuan barisan dan umat berarti bersatu fikrah/pemikiran dan tujuan tanpa menghilangkan perbedaan dalam karakter (kejiwaan). Inilah kekuatan Islam. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin persaudaraan islam ini.