Siapa itu ikhwan? setidaknya da tiga tentang ikhwan ini yakni ikhwan fid diin, ikhwan Nabi, serta ikhwan/akhwati fillah. berikut cuplikan penjelasan dari As Syeikh Abd Muhaimin:
A. IKHWAN FIDDIN
Ikhwan fiddin adalah gelar yang diberikan langsung oleh Allah Azza wa Jalla, bagi yang telah bertaubat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat.
Bagi orang orang yang belum bertobat (dari kesyirikan, kekafiran dll), belum dapat disebut Ikhwan Fiddin. Juga bagi orang yang tidak sholat atau hanya sekedar mengerjakan sholat tanpa memahami ma’na dari sholat tersebut, sehingga sholat yang dikerjakan hanya sebatas ritual tanpa mempengaruhi pola hidup, sehingga tidak nampak bekas-bekas sholat mereka ( min atsaris sujud ), sebagaimana para sahabat Rosul adanya. Sebagaimana yang digambarkan dalam surat Al-Fath ayat 29,namun sebaliknya sholat mereka hanya siulan dan tepuk tangan belaka, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Anfal ayat 35. Sholatnya tanpa dapat mencegah dari perbuatan Fahsya dan munkar (QS. Al Ankabut : 45) serta dapat lebih mengingat Allah (QS. Toha : 14 ), tidak mengabaikan dan tidak melalaikan apa-apa yang telah diikrarkan dihadapan Allah ketika sedang sholat, berjanji untuk tunduk patuh, rela diatur akan meng-Ilahkan Allah semata dan tidak mensekutukan Nya dengan sesuatu apapun.
Juga tidak disebut Ikhwan fiddin bagi yang belum menunaikan zakat, atau menunaikan zakat tetapi disalurkan fi sabilit Thoghut yang akan digunakan mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah ( QS. Al Anfal : 36 )
Dan Allah menerangkan gelar Ikhwan fiddin adalah bagi kaum yang mengetahui bukan diberikan kepada sembarangan orang yang tidak mengetahui hakikat ini.
"Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat serta membayar zakat maka mereka itu adalah Ikhwan-Ikhwan fiddin. Dan kami menjelaskan ayat-ayat ini bagi kaum yang mengetahui". ( QS. At Taubah : 11)
B. IKHWAN NABI
"Bilakah aku bertemu Ikhwan-ikhwan ku ? " Para sahabat berkata : " Bukankah kami Ikhwan- Ikhwan mu ? " Nabi Saw menjawab : "Kalian adalah sahabat-sahabat ku, sedangkan ikhwan- ikhwanku adalah orang-orang yang beriman kepadaku tetapi tidak pernah melihatku dan aku rindu kepada mereka". (HR Abu Syaikh)
"Aku rindu bertemu ikhwan-ikhwanku, yaitu orang-orang yang beriman kepadaku namun tidak pernah melihatku". (HR Ahmad)
Betapa indahnya gelar Ikhwan dan betapa semua orang mendambakannya, siapa yang tidak dirindukan oleh sang kekasih Allah.
Merekalah Ummat beliau yang istiqomah, yang tidak pernah menyimpang dari sunnah nya, menapaki manhajnya dan mereka beriman kepadanya dengan keimanan yang Amiq walaupun tak pernah melihatnya, apalagi melihatnya, mereka menghidupkan sunnahnya dikala manusia mengabaikannya, mereka menapaki manhajnya ketika manusia meninggalkannya, pantaslah kalau Rasulullah merindukannya. Itulah Ikhwan Nabi Saw yang didunia tidak bertemu Nabi, lain halnya dengan para sahabat mereka menyaksikan langsung pribadinya, kemu’jizatannya, kemuliaan akhlaqnya, keberaniannya dalam membela Al Haq, kelembutannya terhadap sesama, kegagahan nya dalam mengobarkan jihad bagi ummatnya, kearifan nya dalam menyelesaikan setiap permasalahan ummatnya, wajarlah kalau mereka beriman kepada beliau, lain hal dengan Ikhwan yang tidak pernah sama sekali bertemu dengannya, yang tersisa hanya jejak yang samar dikelabui zaman yang penuh fitnah, namun hanya Ikhwan /Akhwat sajalah yang dengan rahmat Allah dapat menapak tilasi jejak /manhaj yang pernah beliau Saw bersama para sahabatnya praktekkan, sehingga Dinul Islam dapat kembali zhohir ditengah-tengah gelombang kegelapan. Walaupun ibarat memegang bara api, tetapi Ikhwan/Akhwat Nabi tetap iltizam menempuh jalan Nabi yang penuh tantangan, karena mereka ingin bert emu Allah Swt dan Nabi Nya yang menunggu di telaga yang indah.
Dari Abu Hurairah ra. Katanya : "Suatu ketika Rasulullah berkunjung ke sebuah pekuburan, lalu mengucapkan salam : ’Assalamu’alaikum daara qaumin mu’minin. Wa inna insya Allah bikum laahiquun’ ( selamat engkau wahai penduduk kampung kaum mu’min Insya Allah kami akan menyusul kalian). Setelah itu Nabi Saw berkata : " Aku ingin benar kalaulah kita dapat melihat Ikhwan-Ikhwan kita", para sahabat berkata : "bukanlah kami Ikhwan-Ikhwan mu, ya Rasulullah ? ", jawab Nabi: " Anda semua adalah sahabatku, Ikhwan-Ikhwan kita yang kumaksudkan adalah orang-orang yang belum datang ( tetapi akan datang kelak pada hari kiamat)", mereka bertanya: " Bagaimana anda dapat mengenal ummat anda yang belum datang tetapi akan datang di hari kemudian ya Rasulullah ?", jawab Rasulullah Saw: "Bagaimana pendapat anda jika seseorang mempunyai kuda putih keningnya, kakinya dan tangannya, kemudian kuda itu berada di tengah kuda-kuda lainnya tetapi hitam semua, dapatkah orang mengenali kudanya ?", mereka menjawab: "tentu ya Rasulullah, tentu dapat ", Sabda Nabi Saw: " Nah! mereka nanti akan datang dalam keadaan putih bercahaya-cahaya mukanya, tangannya dan kakinya, karena dari bekas wudhu. Dan aku mendahului mereka datang ke telagaku. Ketahuilah ada orang-orang yang aku larang mendekati ke telaga ku itu, seperti halnya seekor unta sesat, lalu kupanggil mereka: "kemarilah !", tetapi nanti ada yang mengatakan: "mereka itu telah bertukar agama sepeninggal anda !", karena itu kuusir mereka, "pergilah jauh-jauh !", kataku. ( HR. Muslim)
C. IKHWAN / AKHWAT FILLAH
Orang-orang yang bersatu dibawah aqidah yang satu (diikat dengan tali Allah) yang di dalamnya penuh keikhlasan karena Allah mereka itulah Ikhwan’Akhwat fillah. Mereka saling mencintai karena Allah, saling menyayangi dengan ghiroh karena Allah, tolong-menolong, lindung-melindungi semata-mata hanya karena Allah, karena kemuliaan Nya, walaupun diantara mereka tidak ada hubungan nasab, karib kerabat, bisnis/harta benda tapi semata- mata cinta karena Allah, benci karena Allah, berkumpul karena Allah, berpisah karena Allah.
"Sungguh diantara hamba-hamba Allah itu , ada orang-orang yang bukan nabi dan syuhada, tetapi nabi dan syuhada menginginkan keadaan seperti mereka, karena kedudukannya di sisi Allah", sahabat bertanya:" Kabarkan kepada kami siapa mereka itu ?", Rasul Saw menjawab:" mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai karena kemuliaan Allah walaupun tak ada hubungan karib kerabat diantara diantara mereka serta tak ada hubungan harta benda yang ada pada mereka, maka Demi Allah wajah-wajah mereka sungguh bercahaya, sedang mereka tidak takut apa-apa di kala orang lain takut, dan mereka tidak berduka cita di kala orang lain berduka cita". (HR Abu Daud)
"Dua orang yang saling mencintai karena Allah keduanya berkumpul karenanya dan berpisah karenanya"(Bukhori Muslim)
dari terjemah kitab Mafahim Ma’ani Kalimati’l Ikhwati, As Syuruth wa Khosoisuhum
GMP
13 tahun yang lalu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar