Pages

Rabu, 25 Mei 2011

Kiat Membangun Kejayaan Umat





Oleh Ahkam Sumadiana


Untuk membangun kembali kejayaan umat dan menjamin keselamatan dunia, dibutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki kemampuan luar biasa, seperti yang dikader para nabi, khususnya Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah teladan abadi dalam mewujudkan peradaban mulia di muka bumi.
Sosok pribadi unggul yang dibutuhkan saat ini setidaknya mempunyai kriteria sebagai berikut:

1. Penuh Keyakinan kepada Allah dan Percaya Diri
Faktanya, umat Islam saat ini masih ragu terhadap bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kekuatannya sendiri, hingga sulit untuk bersaing, apalagi melawan musuh-musuh Islam. Padahal umat Islam adalah umat yang paling unggul dari pada umat lainnya. Sebagaimana Firman Allah SWT,”
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah… (Ali ‘Imran [3]: 110)

Keunggulan yang utama bagi orang-orang beriman terletak pada ajaran Islam yang tetap terjaga kesucian dan keasliannya. Seharusnya, dengan modal terbesar ini tidak ada yang menghalangi kita untuk yakin dan percaya diri.

2. Selalu Waspada dan Siap Siaga
Kondisi kaum Muslimin saat ini yang miskin, lemah, menderita, dan terjajah, mengakibatkan mereka tidak sanggup mengemban tanggung jawab yang telah diwajibkan Allah kepada mereka. Sampai kapan umat Islam menunggu belas kasihan dan uluran tangan dari musuh-musuh Islam? Bukankah sebaiknya kita segera bangkit dari keterpurukan, kemudian menyiapkan diri untuk menyongsong hari esok dan melawan musuh-musuh Islam? Bukankah Allah perintahkan melalui firman-Nya.

وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu. (Al-Anfal [8]: 60)
Adapun persiapan yang diperlukan sedikitnya ada dua, yakni:
a. Al-i’dad al-imani (mempersiapkan kekuatan Iman)
Allah telah memberikan jaminan kemenangan bagi orang beriman sebagaimana firman-Nya,”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhai-Nya untuk merek, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa … (An-Nur [24]: 55)
b. Al-i’dad al-maddi (mempersiapkan perbekalan materiil)
Persiapan ini meliputi dua hal, yakni al-’udah al-’asykariyah (senjata) dan al-’udah al-basyariyah (perlengkapan pasukan). Persiapan senjata dan sejenisnya merupakan syarat penting untuk melawan musuh-musuh Allah.

Demikianlah, jika persyaratan tersebut terkumpul, maka kewajiban berperang harus segera dijalankan, karena kewajiban tiba bersama dengan adanya kemampuan. Rasulullah dan para Sahabat, ketika belum hijrah di Makkah tidak diperintahkan untuk berperang karena mereka belum siap.
3. Menjadi Da’i Unggul yang Diplomatif
Tidak dapat disangkal bahwa ajaran Islam dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia saat ini karena dakwah dan kerja keras para da’i yang diplomatis. Kehandalan generasi awal Islam itu merupakan janji Allah SWT sebagaimana firman-Nya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ ﴿٣٣﴾
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (At-Taubah [9]: 33)
Kita bersyukur dengan janji Allah bahwa Islam dengan kearifan dan kebijaksanaannya akan mampu mengalahkan agama dan ideologi lain. Banyak hadits yang menjelaskan masa kemenangan Islam dan tersebarnya agama Allah ini ke berbagai penjuru dunia. Tidak diragukan lagi bahwa kemenangan Islam di masa depan semata-mata atas izin Allah Ta’ala, melalui perjuangan kita.

Di antara hadits yang dapat membakar semangat para pejuang Islam sekaligus menjadi argumen untuk menyadarkan kaum fatalis yang tidak mau berjuang sama sekali adalah:
Allah SWT telah menghimpun (mengumpulkan dan menyatukan) bumi ini untukku. Oleh karena itu, aku dapat menyaksikan belahan bumi Barat dan Timur. Sungguh kekuasaan umatku akan sampai ke daerah yang dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku itu. (Riwayat Imam Muslim [8/171], Imam Abu Daud [4252], Imam Turmudzi [2/27] yang menilainya sebagai hadits shahih)

Dalam mewujudkan generasi yang unggul itu kita akan menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk menghadapinya:

A. Menghilangkan keragu-raguan terhadap Islam sebagai satu-satunya solusi terhadap problematika kehidupan manusia. Firman Allah SWT:
أَفَغَيْرَ دِينِ اللّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ طَوْعاً وَكَرْهاً وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ ﴿٨٣﴾
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (‘Ali Imran [3]:83)
B. Mendahulukan Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusan dengan berpegang teguh terhadap al-Quran dan al-Hadits. Firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Hujurat[49]:1)
C. Mengutamakan hidup berjamaah serta meninggalkan perpecahan dan pertengkaran. Firman Allah:
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ﴿١٠٣﴾
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (Ali ‘Imran [3]:103)

D. Menjaga dan merpererat ukhuwah Islamiyah, baik lokal, nasional maupun internasional. Firman Allah:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿١٠﴾
Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat [49]:10)
E. Mengikis sikap minder pada diri orang beriman, karena yang paling mulia adalah orang takwa. Firman Allah:
…إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣﴾
…sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat [49]:13)
F. Meninggalkan sikap sombong. Tabiat orang sombong biasanya tidak membutuhkan bantuan Allah dan bantuan orang lain, bahkan meremehkannya. Firman Allah:
كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَى ﴿٦﴾ أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى ﴿٧﴾

Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup (tak perlu bantuan).( Al-Alaq [96]: 6-7)
Wallahu a’lam bish-Shawab. *** SUARA HIDAYATULLAH, JULI 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar